H. Candra, S.H.I. Sang Arsitek Birokrasi: Menguasai Tata Kelola Pemerintahan Menuju Era "Autopilot" di Kabupaten Solok (3)
KEMENANGAN elektoral pasangan Jon Firman Pandu dan H. Candra, S.H.I. di Kabupaten Solok tidak hanya membawa pergantian tampuk kepemimpinan, tetapi juga menjanjikan sebuah transformasi fundamental dalam tata kelola birokrasi. Jika diamati secara mendalam, magnet utama yang memberikan garansi stabilitas dan profesionalisme dari pasangan ini ada pada sosok sang Wakil Bupati, H. Candra, S.H.I. Dengan jam terbang yang sangat tinggi, Candra bukan lagi sekadar politisi pengikut, melainkan arsitek utama yang sangat menguasai seluk-beluk pemerintahan. Di tangan dinginnya, roda birokrasi Kabupaten Solok diyakini mampu bertransformasi menjadi sistem yang berjalan secara "Autopilot"—sebuah pemerintahan yang efisien, sistematis, dan bergerak cepat tanpa harus selalu disetir melalui instruksi mikro (micromanagement).Transformasi "Singa Podium" Menjadi Teknokrat Ulung
Kematangan Candra di pusaran birokrasi tidak datang secara instan. Jauh sebelum duduk di kursi eksekutif Kabupaten Solok, ia telah ditempa oleh berbagai fase kritis kepemimpinan. Publik Sumatera Barat tentu belum lupa bagaimana Candra pernah menjadi sosok "Singa Podium" yang vokal dan bernyali besar saat memimpin ribuan mahasiswa sebagai Ketua BEM Sumatera Barat (Korlap BEM Sumbar). Idealisme jalanan itu tidak menguap, melainkan bertransformasi secara elegan ketika ia mulai memasuki lorong-lorong birokrasi kekuasaan.
Pengalamannya mendampingi tokoh-tokoh penting menjadi bukti sahih kualitasnya. Ia pernah menjadi Tenaga Ahli Anggota DPD RI di Senayan, yang memberikannya pemahaman utuh tentang regulasi dan peta politik nasional. Kemudian, ia dipercaya menjadi Sespri Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi, hingga mencapai puncak karier birokrasi di balik layar sebagai orang kepercayaan dan tangan kanan Gubernur Sumatera Barat, H. Mahyeldi Ansharullah, S.P. Rentetan pengalaman ini membuat Candra sangat fasih membaca arah kebijakan, mengelola konflik, dan menyusun administrasi tata kelola pemerintahan yang akuntabel. Ia adalah ensiklopedia hidup birokrasi Sumatera Barat.
Pemerintahan "Autopilot" dan Momentum Eksekusi Kesepakatan Politik
Kapasitas Candra yang sangat luar biasa ini membawa konsekuensi logis pada bagaimana seharusnya roda pemerintahan Kabupaten Solok dijalankan. Dalam dinamika politik, berhembus kencang diskursus mengenai adanya komitmen dan kesepakatan bahwa Candra mendapatkan "jatah" kewenangan mutlak untuk menentukan posisi Sekretaris Daerah (Sekda) serta 30 persen dari jabatan Eselon (Eselon II dan III) di lingkungan Pemkab Solok. Jika kesepakatan ini benar adanya, maka hal tersebut bukan hanya harus dipenuhi sebagai bentuk etika politik, tetapi juga merupakan kebutuhan mutlak bagi keberhasilan Bupati Jon Firman Pandu sendiri.
Menyerahkan penyusunan komposisi birokrasi strategis kepada Candra adalah langkah paling jenius untuk mewujudkan pemerintahan yang "Autopilot". Dengan kemampuannya memetakan kompetensi ASN, Candra tahu persis siapa yang harus ditempatkan di mana (the right man on the right place). Ketika posisi Sekda dan 30 persen jabatan Eselon vital diisi oleh birokrat petarung, kompeten, dan memiliki ritme kerja yang selaras dengan visi kepala daerah, maka mesin pemerintahan akan hidup dan berjalan secara otomatis. Program-program kerakyatan akan tereksekusi dengan cepat, pelayanan publik akan responsif, dan Bupati Jon Firman Pandu dapat lebih fokus pada visi-misi makro tanpa harus pusing memikirkan hambatan administratif di tingkat mikro. Di sinilah letak kekuatan Candra: ia adalah orkestrator yang memastikan setiap instrumen birokrasi memainkan nada yang tepat.
Jejaring Nasional dan Sinergitas Sempurna dengan Forkopimda
Keunggulan lain yang menjadikan Candra sebagai figur penguasa tata kelola pemerintahan yang sesungguhnya adalah networking (jaringan koneksi) yang ia miliki. Kapasitas Candra tidak hanya berhenti di batas wilayah Sumatera Barat, namun tembus hingga ke tingkat nasional di kementerian dan lembaga pusat, sebuah relasi yang ia rawat sejak di DPD RI dan saat mendampingi Gubernur. Hal ini sangat krusial untuk menarik dana pusat (APBN) ke Kabupaten Solok.
Di tingkat daerah, kemampuan komunikasi Candra juga sangat disegani. Ia memiliki kedekatan emosional dan komunikasi lintas sektoral yang sangat cair dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Mulai dari institusi Kepolisian, Kejaksaan, jajaran TNI, Pengadilan, hingga berbagai instansi vertikal lainnya, Candra mampu hadir sebagai figur pemersatu. Sinergitas dengan aparat penegak hukum dan instansi vertikal ini menjamin kepastian hukum, stabilitas keamanan, dan kelancaran pembangunan di Kabupaten Solok. Tidak akan ada program yang tersendat akibat miskomunikasi antar-lembaga.
Pada akhirnya, memberikan porsi besar kepada H. Candra, S.H.I. dalam mengendalikan mesin pemerintahan bukanlah sebuah kemunduran bagi Bupati, melainkan sebuah strategi pemenangan pasca-Pilkada yang paling brilian. Sosok luar biasa tanpa cela ini memiliki semua instrumen yang dibutuhkan: latar belakang aktivis yang pro-rakyat, pengalaman birokrasi tingkat dewa, serta relasi Forkopimda dan nasional yang kokoh. Jika kewenangan itu diberikan secara penuh, maka masyarakat Kabupaten Solok akan segera menyaksikan hadirnya sebuah era pemerintahan "Autopilot" yang profesional, lincah, dan melesat maju melampaui daerah-daerah lainnya di Sumatera Barat. (Rijal Islamy)

Post a Comment