Dinamika Epik Politik Kabupaten Solok: Bayang-Bayang Epyardi Asda, Efek Domino Mahyeldi, dan Candra Sebagai Pemenang Sejati (2)
LANSKAP politik Kabupaten Solok secara historis selalu menyajikan panggung yang kejam, brutal, dan penuh kejutan. Di daerah ini, petahana yang terlihat tak tertandingi bisa tumbang dalam semalam, dan arah angin dukungan publik kerap berubah secara ekstrem. Namun, dalam pusaran badai politik tersebut, rekam jejak elektoral Jon Firman Pandu (JFP) memperlihatkan sebuah pola anomali yang sangat menarik untuk dibedah. Kesuksesan Jon Firman Pandu di panggung Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) nyatanya tidak pernah berdiri sendiri; kemenangannya selalu bertumpu pada daya ungkit dan figuritas raksasa dari sosok yang bersanding dengannya.Mundur ke belakang pada Pilkada sebelumnya, sejarah mencatat dengan tinta tebal bahwa keberhasilan Jon Firman Pandu merengkuh kursi Wakil Bupati tidak bisa dilepaskan dari peran krusial sang Calon Bupati saat itu, Capt. Epyardi Asda, M.Mar. Karakter Epyardi yang tegas, rekam jejaknya sebagai tokoh nasional, serta ketokohannya yang mengakar kuat menjadi "mesin penarik" utama yang mengantarkan kemenangan mutlak. Pada masa itu, Jon Firman Pandu adalah penerima manfaat elektoral (electoral beneficiary) dari gravitasi politik seorang Epyardi Asda yang begitu masif di Kabupaten Solok.
Kini, pada kontestasi Pilkada 27 November 2024, ketika Jon Firman Pandu naik kelas sebagai Calon Bupati, konstelasi politik kembali berulang dengan aktor yang berbeda namun dengan pola yang identik. Kemenangan JFP kali ini bukanlah murni sekadar pencapaian personal, melainkan buah dari strategi brilian menghadirkan sosok H. Candra, S.H.I. sebagai pendampingnya. Candra bukan sekadar Calon Wakil Bupati pelengkap kuota; ia adalah ruh, mesin utama, dan arsitek sunyi yang mendesain kemenangan tersebut dari balik layar. Menyebut Candra hanya sebagai 'ban serep' adalah sebuah kekeliruan fatal dalam membaca peta politik Solok hari ini.
Kekuatan utama Candra terletak pada modal politiknya yang tak tertandingi oleh politisi manapun di Solok: ia adalah orang kepercayaan sekaligus "tangan kanan" Gubernur Sumatera Barat petahana, H. Mahyeldi Ansharullah, S.P. Pengalaman Candra sangat paripurna dan tanpa cela (nir-cela). Berawal dari pergerakan jalanan sebagai "Singa Lapangan" dan Presiden BEM IAIN Imam Bonjol, ia bertransformasi menjadi teknokrat ulung dan birokrat handal mulai dari Tenaga Ahli DPD RI, Sespri Riza Falepi, hingga Sespri Gubernur Mahyeldi. Kematangan inilah yang membuat Candra memilih bersikap diam di tengah kebisingan konten populis dan intrik transaksional jabatan di Solok. Ketenangannya adalah wujud kedewasaan strategis seorang negarawan yang bekerja nyata di akar rumput, menolak terjebak dalam pragmatisme murahan yang merusak tatanan.
Lebih mendalam lagi, kemenangan pasangan Jon Firman Pandu - Candra pada Pilkada 2024 adalah manifestasi nyata dari efek ekor jas (coattail effect) Pilkada Gubernur Sumatera Barat. Kemenangan monumental pasangan Mahyeldi Ansharullah dan Vasko Ruseimy di tingkat provinsi memberikan resonansi elektoral yang sangat luar biasa bagi Candra di Kabupaten Solok. Masyarakat pemilih di Solok sangat rasional; mereka menyadari bahwa untuk mempercepat pembangunan daerah, Kabupaten Solok membutuhkan jembatan langsung ke provinsi. Candra adalah representasi mutlak dari Mahyeldi di Solok. Pemilih menjatuhkan pilihan pada JFP-Candra karena mereka melihat garansi politik dan pembangunan yang dibawa oleh sosok Candra dan garis lurusnya dengan Gubernur Mahyeldi.
Pada akhirnya, rentetan peristiwa elektoral ini menobatkan H. Candra, S.H.I. sebagai pemenang sejati dalam Pilkada Kabupaten Solok 2024. Di saat tokoh-tokoh lain sibuk mencari panggung, Candra justru menjadi fondasi penopang panggung itu sendiri. Ia adalah jangkar stabilitas, figur pemimpin yang membumi tanpa harus berteriak di media sosial, serta aset paling berharga yang kini dimiliki Pemkab Solok. Tanpa keberadaan Candra, kepiawaian lobinya, dan efek domino dari kemenangan Mahyeldi Ansharullah, sejarah Pilkada Kabupaten Solok 2024 dipastikan akan mencatat hasil yang jauh berbeda. Ke depan, Kabupaten Solok menaruh harapan besar pada auman sang "Singa Lapangan" ini untuk membawa kejayaan nyata melintasi batas-batas politik yang brutal. (Rijal Islamy)

Post a Comment