News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Mahasiswa S2 MPI UIN Batusangkar Tawarkan Blueprint Pendidikan Transformatif Siap Kerja

Mahasiswa S2 MPI UIN Batusangkar Tawarkan Blueprint Pendidikan Transformatif Siap Kerja


Batusangkar, PATRONNEWS.co.id
— Di tengah ancaman bonus demografi yang bisa berbalik menjadi bencana demografi akibat tingginya angka pengangguran terdidik, dunia pendidikan dituntut untuk segera berbenah. Pertanyaan kritisnya: apakah sekolah dan madrasah hari ini sekadar berfungsi sebagai "pabrik ijazah", atau benar-benar kawah candradimuka yang mencetak generasi siap tarung di dunia kerja?

Gugatan terhadap realitas pendidikan tersebut menjadi sorotan tajam dalam perkuliahan luring perdana mahasiswa Program Magister (S2) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Kelas B, Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar, Minggu (8/11/2026).

Di bawah asuhan pakar pendidikan Prof. Dr. H. Asmendri, S.Ag., M.Pd., mata kuliah Perencanaan Pendidikan Islam tak sekadar menjadi ruang transfer wawasan, melainkan berubah menjadi mimbar diskursus akademik yang menelanjangi kelemahan desain pendidikan kiwari. Prof. Asmendri menegaskan, perencanaan pendidikan tak boleh lagi hanya terjebak pada formalitas pemenuhan standar akreditasi, melainkan harus menjadi blueprint strategis yang adaptif terhadap disrupsi zaman dan kebutuhan riil industri.

Tampil memantik diskusi, dua mahasiswi S2, Selfi Engla Julianti dan Widya Fadhila, mempresentasikan makalah bertajuk "Integrasi Pendekatan Sosial, Ekonomi, dan Ketenagakerjaan dalam Perencanaan Pendidikan Islam Transformatif."

Makalah ini secara berani membedah lambatnya ekosistem pendidikan—khususnya lembaga pendidikan Islam—dalam merespons pergeseran tren global. Keduanya menawarkan trilogi pendekatan yang dinilai mutlak diadopsi jika sekolah tidak ingin ditinggalkan zaman.

Menurunkan Sekolah dari 'Menara Gading'

Dalam paparannya, Selfi dan Widya menyoroti bahwa pendekatan sosial mengharuskan lembaga pendidikan turun dari "menara gading". Selama ini, banyak kurikulum yang tercerabut dari akar realitas sosialnya. Melalui pendekatan ini, sekolah dan madrasah diwajibkan memetakan secara presisi karakteristik demografi, kondisi sosio-ekonomi keluarga, hingga kearifan dan potensi lokal daerah tempat lembaga itu berdiri. Pendidikan tidak boleh seragam secara membabi-buta (one-size-fits-all), melainkan harus kontekstual.

Sementara dari kacamata ekonomi, perencanaan pendidikan tidak boleh lagi mengabaikan rasionalitas Return on Investment (RoI) bagi masyarakat. Jika biaya pendidikan yang dikeluarkan orang tua berujung pada anak yang menganggur, maka ada tata kelola yang keliru. Pendekatan ekonomi mendesak adanya efisiensi, efektivitas, dan keadilan dalam pengelolaan sumber daya, serta mengarahkan lulusan agar mampu membaca dan menciptakan peluang ekonomi baru di masyarakat.

Pukulan paling tajam diarahkan pada pendekatan ketenagakerjaan. Realitas link and match (kesesuaian) antara dunia pendidikan dan Dunia Usaha/Dunia Industri (DUDI) di Indonesia masih menyisakan jurang yang lebar. Dunia kerja hari ini tidak lagi semata-mata mencari lulusan dengan nilai akademis sempurna, melainkan individu dengan survival instinct yang kuat.

Artinya, lembaga pendidikan harus merekonstruksi indikator kompetensinya dengan memasukkan soft skill fundamental: komunikasi lintas generasi, literasi digital dan kecerdasan buatan (AI), kolaborasi, pemecahan masalah (problem solving), hingga insting kewirausahaan. Lulusan yang hanya bermodalkan kemampuan menghafal teks dipastikan akan tergilas oleh otomatisasi.

Peta Jalan Menuju Kesiapan Karier

Gagasan paling konstruktif yang lahir dari mimbar akademik ini adalah keharusan merombak orientasi kelulusan. Indikator keberhasilan kepala sekolah atau madrasah seharusnya tidak lagi diukur dari seberapa banyak siswanya lulus Ujian Akhir, melainkan seberapa cepat lulusannya terserap di bursa kerja, melanjutkan ke perguruan tinggi berkualitas, atau merintis usaha mandiri.

Mengambil role model pada jenjang Madrasah Aliyah (MA), forum ini mengusulkan peta jalan sistematis yang tak lagi teoritis. Fase kelas X harus menjadi arena ekskavasi (penggalian) dan pemetaan minat serta bakat yang akurat. Memasuki kelas XI, metode Project-Based Learning (pembelajaran berbasis proyek) harus mendominasi ruang kelas—memaksa siswa menyelesaikan masalah-masalah nyata di masyarakat. Puncaknya, di kelas XII, sekolah fokus pada inkubasi kesiapan karier.

Integrasi ini bukan pepesan kosong jika dieksekusi melalui program terukur, seperti sertifikasi keterampilan digital terapan, inkubasi bisnis madrasah, magang atau kemitraan strategis dengan korporasi/industri lokal, serta kewajiban penyusunan portofolio karya bagi setiap siswa sebelum lulus.

Perkuliahan perdana di Pascasarjana UIN Batusangkar ini mengirimkan pesan kuat bagi para pemangku kebijakan pendidikan di daerah: Di era yang berlari begitu cepat, pendidikan yang lambat beradaptasi hanya akan memproduksi barisan panjang pengangguran intelektual. Sudah saatnya ijazah disinkronkan dengan kompetensi nyata. (PN-001)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment