News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Dinas Kominfo Kabupaten Solok Tuai Sorotan, Publik Mengenang Kiprah Deni Prihatni dan Teta Midra

Dinas Kominfo Kabupaten Solok Tuai Sorotan, Publik Mengenang Kiprah Deni Prihatni dan Teta Midra

Eks Kadis Kominfo Kabupaten Solok Bekerja dalam Diam Melahirkan Prestasi dan Inovasi, Sekarang JFP–CANDRA Ibarat Beli Kucing dalam Karung?

DALAM dunia birokrasi, tidak semua pemimpin gemar berdiri di panggung. Ada yang memilih sorotan lampu, ada pula yang bekerja dalam senyap membiarkan karya berbicara lebih keras daripada retorika.

Beberapa pekan terakhir, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Solok menjadi sorotan publik. Sayangnya, bukan karena inovasi  atau terobosan literasi media, melainkan karena isu yang kurang sedap dan konflik internal yang menyita energi.

Padahal, Kominfo adalah etalase pemerintah daerah. Ia bukan sekadar unit teknis. Ia adalah wajah, suara, dan narasi resmi pemerintahan ketika wajah itu keruh, citra pemerintahan pun ikut tercermin.

Penulis mencatat, di era kepemimpinan sebelumnya, Dinas Kominfo Kabupaten Solok pernah berada dalam fase yang relatif produktif.

Di bawah kepemimpinan Deni Prihati, misalnya, Kominfo bergerak dengan pendekatan yang tidak gaduh. Tidak banyak konferensi pers, tidak banyak klaim. Tetapi ada jejak yang bisa ditelusuri.

Dukungan terhadap TP PKK dalam produksi konten yang kemudian meraih prestasi terbaik pada Jambore tingkat Provinsi Sumatera Barat tahun 2021 menjadi salah satu catatan. Inovasi podcast daerah mulai diperkenalkan. Radio Solinda kembali mengudara sebagai medium komunikasi publik. Bahkan penghargaan Smart Living dari Kementerian Kominfo pernah diraih.

Semua itu tidak lahir dari kebetulan. Ia lahir dari sistem kerja yang relatif tenang, kolaboratif, dan terukur.

Kemudian estafet berlanjut kepada Teta Midra. Sosok yang dikenal murah senyum dan tidak gemar berdebat di ruang publik. Namun kembali, yang berbicara adalah karya.

Program “Lapor Pak JFP” menjadi salah satu terobosan komunikasi dua arah. Kabupaten Solok masuk empat besar dalam Anugerah Media Humas kategori konten audio visual tahun 2024. Kerja sama strategis dengan Kementerian Kominfo dalam pengelolaan dan produksi konten publikasi daerah terbangun. Aplikasi SERASI terintegrasi sebagai bagian dari digitalisasi layanan.

Keduanya memiliki satu kesamaan: tidak menjawab kritik dengan retorika, tetapi dengan kerja.

Transisi yang Terasa Hampa

Kini, memasuki dua bulan kepemimpinan baru di tubuh Kominfo Kabupaten Solok, publik justru merasakan ruang yang berbeda. Bukan inovasi yang terdengar, melainkan konflik.

Sebagai pengamat, penulis melihat belum tampak gebrakan signifikan yang menunjukkan arah baru atau penguatan dari apa yang sudah dibangun sebelumnya. Padahal, momentum satu tahun kepemimpinan JFP–Candra seharusnya menjadi panggung emas bagi Kominfo untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai corong resmi pemerintah daerah.

Namun hingga kini, publikasi yang estetis, terkonsep, dan strategis belum terlihat dominan. Konten media sosial pemerintah daerah terasa biasa saja bahkan kerap dinilai kurang mencerminkan standar komunikasi institusi pemerintahan modern.

Di era digital, visual bukan sekadar hiasan. Ia adalah bahasa. Pemerintah yang tidak mampu berbicara dengan bahasa zaman, akan ditinggalkan audiensnya.

Kepemimpinan dan Narasi Personal

Dalam dinamika birokrasi, kedekatan personal dengan pimpinan bukanlah dosa. Namun menyebut-nyebut relasi personal sebagai legitimasi jabatan adalah narasi yang kurang elok.

Kepemimpinan publik bukan soal siapa dekat dengan siapa, tetapi siapa mampu mengerjakan apa.

Bupati JFP hari ini bukan milik kelompok tertentu. Ia milik Kabupaten Solok. Dalam pepatah Minang disebut, “Biduak lalu kiamang batawik.” Kontestasi telah selesai. Yang ada sekarang adalah kerja bersama, maka yang dibutuhkan bukan klaim kedekatan, melainkan pembuktian kapasitas.

Literasi Media: Visi yang Perlu Diterjemahkan

Bupati JFP dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya literasi media. Ini bukan konsep ringan. Literasi media berarti membangun masyarakat yang cerdas dalam menerima informasi, kritis terhadap hoaks, dan produktif dalam ekosistem digital.

Pertanyaannya: sudahkah Dinas Kominfo menerjemahkan visi itu ke dalam program konkret?

Literasi media bukan hanya seminar. Ia membutuhkan strategi konten, kampanye digital terukur, kolaborasi dengan komunitas, dan penguatan branding daerah. Jika Kominfo hanya menjadi biro distribusi siaran pers, maka ia kehilangan ruh transformasinya.

Apakah Terjadi Salah Pilih?

Pertanyaan yang muncul di ruang publik meski mungkin terdengar keras adalah apakah terjadi kesalahan dalam penempatan jabatan?

Istilah “beli kucing dalam karung” tentu metafora. Ia mencerminkan kekhawatiran publik terhadap efektivitas kepemimpinan baru.

Namun evaluasi bukanlah hukuman. Evaluasi adalah mekanisme sehat dalam manajemen pemerintahan.

Jika dalam waktu dekat tidak ada arah strategis yang jelas, maka evaluasi menjadi langkah rasional. Bukan karena sentimen personal, tetapi karena kebutuhan organisasi.

Kominfo adalah sektor vital. Di tengah era modern dan transformasi digital, peran ini bukan lagi sekadar teknis melainkan strategis.

Birokrasi Butuh Kompetensi, Bukan Sekadar Loyalitas

Kabupaten Solok sedang bergerak menuju modernisasi tata kelola. Tantangan ke depan semakin kompleks: disrupsi teknologi, kecepatan informasi, ekspektasi publik yang tinggi.

Maka jabatan kepala dinas Kominfo tidak bisa diisi hanya dengan loyalitas atau kedekatan personal. Ia membutuhkan:

pemahaman komunikasi publik,

kecakapan digital,

kepemimpinan organisasi,

serta integritas manajerial.

Karena kegagalan di sektor komunikasi dapat menggagalkan program terbaik sekalipun.

Menjaga Marwah Pemerintahan

Penulis meyakini JFP–Candra memiliki niat baik membangun Kabupaten Solok. Namun niat baik harus didukung oleh tim yang kompeten.

Program sehebat apa pun akan redup jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Prestasi sehebat apa pun akan tenggelam jika tidak dipublikasikan dengan strategi.

Kominfo adalah pengeras suara pemerintah. Jika pengeras suaranya sumbang, maka pesan kebaikan pun terdengar bising.

Saatnya Refleksi, Bukan Polemik

Tulisan ini bukan serangan personal,  Ia adalah refleksi Dinas Kominfo pernah menunjukkan bahwa bekerja dalam diam pun bisa melahirkan prestasi. Jejak itu ada dan tercatat.

Kini publik menunggu arah baru, Apakah akan lahir inovasi lanjutan?

Atau konflik internal justru menjadi wajah yang dominan?

Waktu akan menjawab. Tetapi kepemimpinan yang visioner tidak menunggu terlalu lama untuk mengevaluasi karena dalam pemerintahan, satu kesalahan penempatan bisa berbiaya mahal.

Dan Kabupaten Solok terlalu berharga untuk dipertaruhkan pada eksperimen yang tak terukur. (***)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment