Program Mahardika Mengajar Batch 6 Dukung Penguatan Surau Mengaji di Jorong Batu Gajah
Oleh: Wahyu Firmansyah
Surau mengaji masih memegang peranan penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan keagamaan anak-anak di wilayah pedesaan. Di tengah keterbatasan akses terhadap lembaga pendidikan keagamaan formal, surau menjadi ruang utama pembinaan nilai keislaman sekaligus pembentukan karakter generasi muda. Kondisi inilah yang melatarbelakangi keterlibatan Program Mahardika Mengajar dalam mendukung kegiatan surau mengaji di Jorong Batu Gajah, Nagari Lubuk Ulang Aling Induk, Kecamatan Sangir Batang Hari. Melalui keterlibatan mahasiswa, program ini berfokus pada pendampingan pendidikan keagamaan anak-anak serta penguatan peran surau sebagai pusat pembinaan moral dan karakter generasi muda di tingkat jorong.
Surau mengaji di Jorong Batu Gajah selama ini menjadi ruang utama pendidikan keagamaan non formal bagi anak-anak. Kegiatan mengaji dilaksanakan secara rutin setiap sore hingga malam hari, lebih tepatnya menjelang magrib yang diawal dengan shalat maghrib terlebih dahulu sampai menjelang isya yang kemudian ditutup dengan shalat isya berjamaah, kegiatannya meliputi pembelajaran membaca Al-Qur’an, pengenalan dasar-dasar ibadah, serta penanaman nilai akhlak dan adab. Melalui Program Mahardika Mengajar, Volunteer terlibat langsung dalam mendampingi kegiatan tersebut bersama guru mengaji setempat.
Keterlibatan Volunteer Mahardika Mengajar bersifat pendampingan dan kolaboratif. Mahasiswa tidak menggantikan peran guru mengaji, melainkan berperan sebagai mitra belajar yang membantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih variatif dan komunikatif. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan minat belajar anak-anak serta memperkuat pemahaman mereka terhadap materi keagamaan.
Guru mengaji setempat menyambut positif keterlibatan volunteer dalam kegiatan surau. Salah seorang guru mengaji di Jorong Batu Gajah menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa memberikan dampak nyata bagi anak-anak. “Anak-anak jadi lebih semangat datang ke surau. Cara belajar yang dibantu oleh mahasiswa juga membuat mereka lebih berani membaca dan bertanya,” ujarnya.
Selain pendampingan pembelajaran, Volunteer Mahardika Mengajar juga terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan lainnya di surau, seperti wirid, pengajian, serta kegiatan sosial keagamaan yang melibatkan masyarakat. Kehadiran mahasiswa di surau turut membantu menghidupkan kembali fungsi surau tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial masyarakat jorong.
Meskipun demikian, pengelolaan surau mengaji di Jorong Batu Gajah masih menghadapi sejumlah keterbatasan, terutama pada aspek sarana dan prasarana belajar. Keterbatasan mushaf Al-Qur’an, buku Iqra, serta fasilitas pendukung lainnya menjadi tantangan dalam menunjang proses pembelajaran. Namun, keterbatasan tersebut tidak mengurangi antusiasme anak-anak maupun komitmen para pengajar dan mahasiswa dalam menjalankan kegiatan mengaji.
Guru mengaji juga berharap dukungan terhadap kegiatan surau dapat terus berlanjut. “Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus ada. Dengan adanya pendampingan dari mahasiswa, surau menjadi lebih hidup dan anak-anak merasa diperhatikan,” tambahnya.
Melalui sinergi antara Volunteer Mahardika Mengajar, guru mengaji, dan masyarakat, surau mengaji di Jorong Batu Gajah diharapkan dapat terus berperan sebagai pusat pendidikan keagamaan dan pembinaan karakter. Program ini menjadi contoh kolaborasi yang positif dalam mendukung penguatan pendidikan keagamaan di tingkat jorong. (*)

Post a Comment