News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Binar Mata yang Terlalu Cepat Dewasa

Binar Mata yang Terlalu Cepat Dewasa

Oleh: Bagas Abdillah Rauf

Sepuluh hari mengabdi sebagai kepala kelompok pengabdian masyarakat menuntutku menjadi lebih liar dalam membaca manusia. Lebih peka dalam berinteraksi. Lebih rendah hati dalam mendengar. Jorong Batu Gajah, yang terletak di deretan keempat Nagari Lubuk Ulang Aling, Kecamatan Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan, menjadi ruang tempat itu semua diuji. Dari balita hingga yang belia, dari yang sepuh hingga yang baru tumbuh dewasa, mata-mata mereka menyimpan arti yang tidak selalu dapat diterjemahkan oleh kata.

Namun tulisan ini sengaja kutujukan kepada mereka yang disebut “pemuda”. Para bujang jorong Batu Gajah yang, dalam pengamatanku, menjelma sebagai pengaman kampung, penjaga ritme sosial, sekaligus penyambung makna antara orang tua dan para pendatang. Dari merekalah paradigma pribadiku tentang kata “Pemuda” di Minangkabau mengalami pergeseran yang sunyi, tetapi mendalam.

Bukan tanpa sebab aku terfokus pada binar yang kerap hadir di mata mereka. Sebagian besar seusia denganku, kelahiran 2005, atau tak terpaut jauh di atas maupun di bawah umurku. Dalam banyak perbincangan yang terjalin, aku datang dengan niat memberi edukasi dan informasi, tetapi justru pulang dengan segenggam insight dari apa yang mereka lontarkan.

Mereka juga pria biasa yang sedang menantang kerasnya hidup. Barangkali tidak seberuntung kami, para volunteer, dalam mengakses pendidikan formal, tetapi dalam hal pengalaman hidup dan daya tahan mental, mereka berdiri sejajar, bahkan melampaui. Keramahan dan antusiasme mereka dalam menyambut kehadiran kami menjadikan setiap program pengabdian terasa lebih hidup dan lebih membumi.

Sebagian besar dari mereka putus sekolah. Ada yang tamat SD, SMP, bahkan SMA. Sebuah kenyataan yang memprihatinkan, tetapi tidak lahir tanpa sebab. Di kampung mereka hanya tersedia satu TK, SD, dan MDA. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, mereka harus menempuh jarak ke kampung lain yang tidak dekat. Kendala ekonomi, akses, serta minimnya motivasi akhirnya memaksa banyak mimpi dikubur terlalu dini.

Hubungan kami dengan para pemuda terjalin karena kebutuhan yang sama, yakni keberlangsungan kegiatan dan program pengabdian. Awalnya canggung, penuh kehati-hatian, saling menjaga jarak. Namun benar adanya, pertemanan antar lelaki sering kali tidak membutuhkan waktu lama untuk saling mengenal.

Malam-malam di posko pengabdian menjadi saksi. Rumah yang kami tempati juga sebelumnya merupakan tempat mereka berkumpul. Kopi panas dan biskuit yang kami bawa dari kota Padang selalu tersaji, meski tak pernah benar-benar habis. Entah karena sungkan, atau karena perut telah terlalu kenyang oleh kopi yang bercangkir-cangkir. Obrolan mengalir dari program kerja, asal daerah volunteer, hingga topik klasik lelaki tentang perempuan. Mereka hadir hampir setiap malam, mendampingi, mengawasi, sekaligus menjaga.

Tulisan ini juga merupakan ungkapan terimakasih atas ketulusan mereka. Bantuan yang diberikan tanpa pamrih, tanpa berharap balasan. Di balik tawa yang mereka pamerkan, aku tahu mereka menyimpan mimpi yang besar. Mereka bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, sekaligus menggapai hidup yang mereka inginkan, meski tanpa jenjang pendidikan yang layak.

Putus sekolah dan memilih bekerja sejak dini adalah jalan yang banyak ditempuh para pemuda di sana. Mereka menggantungkan hidup pada pekerjaan fisik berisiko tinggi, di ruang-ruang alam yang keras dan menuntut kewaspadaan penuh. Upah yang diterima memang sebanding dengan risikonya, bahkan terbilang besar untuk usia mereka. Tak heran bila raut wajah mereka tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Namun ketika ditanya, ternyata mereka seumuran denganku, bahkan ada yang lebih muda. Wajah-wajah yang memikul kerasnya hidup, tetapi mata-mata yang masih mendambakan keindahan dan kebebasan yang seharusnya dinikmati anak seusia mereka.

Perpisahan setelah sepuluh hari mengabdi meninggalkan kesan yang membekas. Setiap perjumpaan yang manis, memang selalu melahirkan perpisahan yang terasa lebih panjang dari waktu. Tak hanya dengan para pemuda, tetapi juga dengan anak-anak di Batu Gajah, yang kelak akan tumbuh menjadi pemuda seperti mereka. Anak-anak yang menjadi sasaran utama motivasi kami tentang pendidikan, agar hidup yang lebih bermartabat tetap memiliki pintu.

Untuk para pemuda Batu Gajah, terima kasih atas semua “saling” yang tercipta. Saling berbagi cerita, pandangan, dan pengalaman. Terima kasih atas bantuan dan partisipasi selama kami mengabdi. Teruslah menjadi pengaman kampung yang membuka mata terhadap perubahan demi kemajuan jorong dan nagari. Semoga harapan-harapan sederhana yang kalian simpan, kelak menemukan jalannya sendiri. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment