News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Mahyeldi Ansharullah, Loper Koran yang Kini Menjadi Kandidat Kuat Gubernur Sumbar

Mahyeldi Ansharullah, Loper Koran yang Kini Menjadi Kandidat Kuat Gubernur Sumbar

Menjadi Wakil Ketua DPRD Sumbar, Wakil Walikota Padang, dilanjutkan dengan dua periode menjadi Walikota Padang, membuat banyak masyarakat Sumbar mengira Mahyeldi Ansharullah menjalani kehidupan serba mudah di masa muda. Tak banyak yang menyangka, kehidupan awal kandidat Gubernur Sumbar, dijalani dan ditempa kehidupan yang keras, alias marasai. Untuk bisa bersekolah dan menyambung hidup, Mahyeldi muda melakukan berbagai pekerjaan untuk bisa survive. Berjualan ikan, menjadi loper koran, menjajakan kue buatan ibunya, harus dijalani Mahyeldi muda. Maka tak heran, ketika jadi pejabat, sikap dan penampilan Mahyeldi senantiasa tampak sederhana. Bagaimana kisahnya?
MENJADI anak tertua dari 7 bersaudara, membuat Mahyeldi secara manusiawi dipersiapkan memikul beban berat. Takdir yang menggariskannya lahir dari keluarga sangat sederhana, membuat beban itu semakin menggunung. Menjadi kakak dari enam orang adik, dan ayah seorang buruh angkat di Pasar Atas, Kota Bukittinggi, membentuk karakter Mahyeldi menjadi seorang pekerja keras.

Beruntung, ayah dan ibunya, Mardanis St. Tanameh dan Nurmi, sangat mengedepankan pendidikan bagi ketujuh anaknya. Meski hidup serba kekurangan, pendidikan bagi kedua pasangan yang dikenal taat beribadah tersebut menjadi nomor satu. Tapi, bagi Mahyeldi kecil, hal itu berarti dia harus ikut membantu orang tuanya untuk berusaha mencari uang. Tidak seperti anak di usia SD dan SMP yang dihabiskan bermain, belajar dan hobi olahraga, Mahyeldi sudah harus ikut membantu ayahnya mencari uang sejak kelas 3 SD.

Seusai membantu ayah dan ibunya usai Shalat Subuh, Mahyeldi langsung bergegas ke sekolah dan tidak pernah terlambat. Sepulang sekolah, ia kembali membantu kedua orang tuanya. Meski badannya sering letih, Mahyeldi terbentuk menjadi pribadi yang disiplin membagi waktu. Antara belajar, membantu kedua orang tua, beribadah dan istirahat. Tak heran, pria kelahiran 25 Desember 1966 itu, selalu menjadi juara kelas.

Roda hidup Mahyeldi tiba-tiba berubah saat ayahnya memboyong seluruh keluarganya merantau ke Kota Dumai, Provinsi Riau. Saat itu, Mahyeldi duduk di kelas lima SD. Pindah ke Dumai, membuat tanggung jawab Mahyeldi semakin besar. Waktunya habis oleh belajar dan bekerja. Usai Shalat Subuh, ia berjualan ikan yang didapatnya dari nelayan asal Pariaman yang akrab disapanya Ajo. Dari Ajo ini, Mahyeldi sering diberi potongan harga, sehingga hasil keuntungan jualannya makin besar.

Waktu berjualan ikan yang terbatas di pagi hari, membuat Mahyeldi merasa waktunya banyak luang. Seorang pemuda asal Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam) merekrutnya sebagai loper koran. Pemuda asal Aceh tersebut merupakan pemilik toko buku dan koran terkemuka di Kota Dumai. Dengan menjadi loper koran, Mahyeldi secara otomatis menjadi orang yang suka membaca, dan banyak tahu informasi.

Hikmah lainnya, setelah korannya habis, Mahyeldi senantiasa langsung bergegas ke toko bosnya untuk membaca buku dan majalah di toko tersebut. Sebuah kesepakatan tidak tertulis, bahwa Mahyeldi boleh membaca buku dan majalah tanpa harus membeli. Kebetulan, Mahyeldi sekolah siang hari, sehingga, waktunya jelang sekolah banyak dihabiskan di toko buku tersebut. Alhasil, pengetahuannya di atas rata-rata murid di sekolahnya. Bahkan, gurunya yang enggan membeli koran, sering menanyakan kepadanya tentang berita-berita aktual.

Hobi membaca buku ini, membuat di masa dewasa Mahyeldi menjadi pengoleksi buku. Bahkan, kini dia mengaku sudah mengoleksi lebih dari lima ribu buku. Mahyeldi paling gemar dengan buku-buku Islam.

Sepulang sekolah, berbeda dengan teman-temannya yang langsung bermain, Mahyeldi memilih menjajakan kue buatan ibunya berkeliling kampung. Kuenya sering terjual habis. Dari hasil jerih payahnya itulah, ia menabung sedikit demi sedikit di celengan kaleng yang dia buat sendiri.

Mahyeldi rutin menghadiri kegiatan pembinaan keislaman di lingkungan tempat tinggalnya ketika SMP. Bahkan, ia terpilih sebagai ketua penyelenggaraan hari besar Islam, baik di sekolah maupun tempat tinggalnya. Mahyeldi juga membentuk kelompok diskusi-diskusi agama yang dia adakan di masjid tempat tinggalnya. Saat itu, panggilan "Buya" sudah melekat kepadanya.

Roda hidupnya kembali berubah di saat ia tengah semangat dalam menjalani kehidupannya di Dumai. Mahyeldi harus berpisah dengan teman-temannya, karena orang tuanya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Mengawali sekolah di SMA Negeri 1 Bukittinggi, ia cepat membaur dengan teman-temannya. Mahyeldi terpilih menjadi ketua kelas. Sama seperti di Dumai, Mahyeldi juga aktif dalam kegiatan keagamaan di sekolahnya. Saat itu, dia telah mengenal sejumlah aktivis dakwah Islam, seperti Hidayat Nur Wahid dan Irwan Prayitno. Bakat menulis yang dimilikinya, membuat Mahyeldi ditugaskan untuk membuat majalah sekolah.

Meski sudah duduk di kelas dua SMA, Mahyeldi masih berjualan koran di pagi hari dan menjual kue di sore hari. Pada malam harinya, Mahyeldi memperdalam ilmu agama dengan sejumlah ustadz. Bahkan, tanpa segan-segan, Mahyeldi rela menjadi tukang bawa tas Pak Ustadz. Sebelum ustadz berceramah, Mahyeldi senantiasa diminta untuk memberi mukadimah.

Di samping sekolah dan mendalami ilmu agama, Mahyeldi merintis usaha baru, yakni beternak kerbau. Dari usaha ternak kerbau inilah Mahyeldi bisa meneruskan pendidikannya. Setamat SMA, Mahyeldi diterima di Fakultas Pertanian Universitas Andalas. Aktivitas dakwah kampus dijalani Mahyeldi saat kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Andalas.  Seperti ruas bertemu buku, Mahyeldi dengan otomatis ikut menggerakkan kegiatan dakwah kampus di Unand.

Kelak, aktivitas dakwah di kampus ini, mengantarkannya bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera. Partai yang dimotori oleh aktivis dakwah di kampus-kampus. Petualangannya di bidang politik pun dimulai.

Pada pemilihan umum legislatif 2004, Mahyeldi diusung oleh PKS sebagai calon anggota legislatif untuk DPRD Sumbar. Pada saat yang sama, Mahyeldi dipilih menjadi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Sumbar sejak 2002 hingga tahun 2005. Hasil perolehan suara menempatkan PKS sebagai pemenang di Padang. Di legislatif itu, Mahyeldi duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Sumbar periode 2004–2009. Hingga akhirnya, dirinya mengundurkan diri setelah dilantik sebagai Wakil Walikota Padang pada 2009, mendampingi Walikota Saat itu, Fauzi Bahar.

Keluarga

Mahyeldi dikaruniai sembilan anak dari pernikahannya dengan Harneli Bahar. Mahyeldi dikenal sebagai sosok pemimpin yang sederhana, santun, dan rendah hati. Saat menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sumbar, dia menolak menggunakan mobil dinas mewah sebagai pimpinan DPRD. Berdasarkan hasil audit Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 8 Oktober 2013 jelang pemilihan Wali Kota Padang, KPU Padang merilis laporan harta kekayaan Mahyeldi senilai Rp 281,509 juta.

Menjadi Walikota Padang

Mahyeldi menjabat sebagai Wali Kota Padang sejak 13 Mei 2014 setelah memenangkan pemilihan umum pada 2013. Pada pemilihan berikutnya, ia kembali terpilih sebagai Wali Kota Padang untuk 2019–2024. Mahyeldi memulai masa jabatan kedua pada 13 Mei 2019.

Pendidikan gratis masuk dalam program unggulan yang diusung Mahyeldi dan Emzalmi dalam kampanye mereka. Pada semester kedua 2014, Padang memulai penyelenggaraan pendidikan gratis 12 tahun yang menjangkau seluruh siswa SD, SLTP, dan SLTA negeri. Lewat APBD, pemerintah meningkatkan alokasi dana bantuan siswa kurang mampu. Dari program yang telah ada, pemerintah mengevaluasi pelaksanaan pesantren kilat dan wirid remaja. Pada 2015, pemerintah mengelola pesantren Ramadan di empat sekolah.

Dalam rangka meningkatkan mutu SDM, pemerintah menargetkan pelajar hafal Alquran dengan memberikan keistimewaan bagi penghafal Alquran. Mereka dapat memilih bebas sekolah yang mereka inginkan sesuai jenjang kelanjutannya, satu juz bagi siswa SD, dan tiga juz bagi siswa SMP. Untuk siswa SMA yang hafal lima juz dapat memilih kesempatan masuk ke Universitas Andalas atau Universitas Negeri Padang.

Sejak 2017, Kota Padang kembali memperoleh Adipura setelah sebelumnya lepas selama delapan tahun. Pada 25 Oktober 2014, pemerintah meluncurkan program Padang Bersih. Terkait pengelolaan sampah, Padang memiliki Perda Nomor 21 Tahun 2012 yang memuat pasal mengenai sangsi bagi siapa saja yang tertangkap membuang sampah sembarangan. Jelang pemberlakuan perda pada 1 Januari 2015, pemerintah melakukan sosialisasi pelaksanaan perda sekaligus melengkapi sarana dan prasarana pendukung. Seluruh kelurahan membentuk Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) yang terdiri dari masyarakat setempat untuk memastikan disiplin warga membuang sampah.

Di antara program unggulan yang diusung di bidang infrastuktur, Mahyeldi menggulirkan program pelaksanakan betonisasi dan pengaspalan jalan lingkungan, perbaikan trotoar, dan pengendalian banjir. Dimulai pada Mei 2014, pemerintah merealisasi sepanjang 53,93 km jalan beton dan aspal pada 2014, diikuti capaian target sepanjang 74 km pada 2015. Selain itu, pemerintah meningkatkan alokasi pemeliharaan peningkatan jalan, trotoar, dan taman kota. Untuk pengendalian banjir dan genangan air, pemerintah mengupayakan lewat rehabilitasi cek dam, normalisasi saluran sungai, dan peningkatan jaringan irigasi.

Sejak 2014, Pemko Padang melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja memulai program bedah rumah dengan alokasi dana dari Kementerian Sosial, APBD Kota Padang, dan swadaya masyarakat. Pada 2014, sebanyak 386 rumah telah direhab dengan total anggaran Rp 3,36 miliar, termasuk swadaya masyarakat Rp 580 juta. Pada 2015, rehab dilakukan terhadap 410 unit rumah tidak layak huni (RTLH) dengan total anggaran Rp 5,97 miliar, termasuk swadaya masyarakat Rp 1,685 miliar. Selain itu, Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan dan Perumahan yang dibantu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan rehab RTLH sebanyak 300 unit pada 2014 dan 840 unit pada 2015. Program rehab dan bedah rumah melalui Baznas Kota Padang memiliki capaian target 72 unit pada 2014 dan 51 unit pada 2015.

Beragam Penghargaan

Pemerintah Kota Padang selama 2015 meraih lebih kurang 30 penghargaan dari instansi pemerintah dan non-pemerintah. Dari Kementerian Perhubungan, Padang mempertahankan penghargaan tertib lalu lintas dan angkutan kota Wahana Tata Nugraha untuk kategori kota besar. Padang dianggap mampu mengaplikasikan program nasional angkutan berbasis massal, ditandai dengan pengoperasian Transpadang. Transpadang saat ini memiliki 35 armada.

Di bidang pendidikan, Kota Padang meraih penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan (APP) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Padang menjadi daerah satu-satunya di Indonesia yang meraih penghargaan tersebut karena dinilai mampu melaksanakan program wajib belajar 12 tahun dengan baik.

Di bidang kesehatan, Padang mendulang prediket kota sehat tertinggi yang ditandai dengan penghargaan Swasti Saba Wistara dari Kementerian Kesehatan pada 27 November 2015. Penghargaan ini menandakan pelayanan kesehatan sekaligus kondisi permukiman, sarana, dan prasarana umum di Padang yang baik. Padang melengkapi sembilan tatanan yang ditetapkan panitia kota sehat.

Di bidang keuangan Padang setiap tahunnya menerima opini Wajar Tanpa Pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah (LKPD). Sebelum kepemimpinan Mahyeldi, Padang hanya mendapatkan opini Wajar Dengan Pengecualian. Di bidang lain, Padang dinobatkan sebagai Kota Layak Anak oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kota Peduli Hak Asasi Manusia oleh Kementerian Hukum dan HAM.

Selain penghargaan dari instansi pemerintah, Padang mendapatkan prediket terbaik ke-8 "Kota Terbaik" dalam acara penganugerahaan Indonesia's Attractiveness Award 2015 yang digelar oleh Tempo Media Group pada 12 Juni 2015. Pada April 2016, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) memberikan penghargaan ASITA Award atas usaha Pemerintah Kota Padang membenahi objek wisata.

Pada 19 Mei 2016, MarkPlus, Inc. dalam acara Indonesia Marketeers Festival menobatkan Mahyeldi selaku Wali Kota Padang sebagai penerima penghargaan "Marketeers of The Year Padang 2016".

Terakhir, Padang di bawah kepemimpinan Mahyeldi mendulang prediket kategori kota di Sumatra yang terbanyak diberitakan di media nasional dalam ajang The 1st Sumatra PR Indonesia Summit & Awards yang diselenggarakan oleh majalah PR Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan pada 20 Mei 2016 di Batam atas hasil penelusuran PR Indonesia bersama Isentia Indonesia sepanjang 2015 terhadap 12 media cetak nasional. (rijal islamy)

Sumber: fanpage Mahyeldi, wikipedia

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment