News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Terjerembab ke Posisi 12 Porprov 2026: Kisah "Berdarah" Atlet Lokal Kabupaten Solok, Kejayaan 5 Cabor Andalan, hingga Ironi Sepakbola

Terjerembab ke Posisi 12 Porprov 2026: Kisah "Berdarah" Atlet Lokal Kabupaten Solok, Kejayaan 5 Cabor Andalan, hingga Ironi Sepakbola

​Solok, PATRONNEWS.co.id — Kontingen Kabupaten Solok harus puas mengakhiri perjalanannya di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 di urutan ke-12 dari 19 kabupaten/kota. Dengan raihan 167 medali (30 emas, 58 perak, dan 79 perunggu), posisi ini menandai penurunan dari masa kejayaan mereka saat menembus 5 besar pada 2016 dan peringkat ke-4 pada 2018.

​Namun, membaca angka di papan klasemen tidak akan cukup untuk memahami dinamika yang terjadi. Di balik kemerosotan peringkat tersebut, tersimpan narasi perjuangan heroik para pahlawan olahraga lokal yang bertarung murni demi daerahnya, meski diwarnai polemik minimnya anggaran, absennya seragam, hingga kealpaan pimpinan daerah saat pelepasan.

​Anomali Prestasi: 5 Cabor Jadi Tulang Punggung

​Meski dirundung keterbatasan yang mencekik, daya juang atlet Kabupaten Solok tak bisa dipandang sebelah mata. Mental baja "Urang Solok" terbukti melalui dominasi luar biasa di lima cabang olahraga (cabor) yang menjadi tulang punggung pendulang medali, yakni Wushu, Bulu Tangkis, Karate, Kick Boxing, dan Menembak (Perbakin).

​Cabor Wushu tampil fenomenal dengan menyabet gelar Juara Umum I, mengoleksi 8 medali emas, 10 perak, dan 8 perunggu (total 26 medali).

​Di arena Bulu Tangkis, kontingen Kabupaten Solok tak terbendung dengan meraih 3 medali emas dari total 5 nomor yang dipertandingkan (ganda campuran, ganda putri, dan ganda putra). Capaian ini menasbihkan Kabupaten Solok sebagai peraih emas terbanyak di cabor bulu tangkis tingkat provinsi.

​Prestasi mentereng juga disumbangkan oleh seni bela diri lainnya. Karate sukses mengunci posisi Juara Umum II dengan sumbangsih 16 medali (4 emas, 4 perak, 8 perunggu). Jejak gemilang ini diikuti cabor Kick Boxing yang juga menempati Juara Umum II dengan total 18 medali (4 emas, 10 perak, 4 perunggu).

​Lompatan prestasi Kick Boxing di bawah komando Muhammad Irfan, S.H., M.H., Dt. Rajo Alam dan tim pelatih (Zelly Hariyanto, Hendra Yazid, Rahmat Sucipto, Annisa Nabila, M. Andi) patut diapresiasi. Pasalnya, jumlah medali ini melonjak tiga kali lipat dibandingkan hasil Kejurda Kick Boxing Sumbar 2023 yang saat itu hanya meraih 6 medali (2 emas).

​Tak ketinggalan, cabor Menembak (Perbakin) di bawah pimpinan Ketua Muhammad Hidayat dan Sekretaris Yusrial Dani Putra menempati posisi Juara II Provinsi dengan 11 medali (3 emas, 6 perak, 2 perunggu). Tiga emas murni disumbangkan dari nomor APM Team, 10 Meter Air Pistol Men, dan IPSC Team (Farel, Rudi Wiralaga, Adia Hamonangon). Farel dan Rudi juga sukses menambah pundi-pundi medali di nomor individu IPSC.

​Emas Perdana Geza dan Maaf Bupati Soal "Dilapeh Ayam"

​Secercah kebanggaan di awal kompetisi juga diukir oleh Taekwondoin Geza Dilaela yang mempersembahkan medali emas perdana pada Sabtu (3/10/2026) di GOR Alimin Sinapa. Hebatnya, medali nomor Kyorugi U-55 kg tersebut diraih dengan menumbangkan atlet tuan rumah (Kota Solok) di final.

​Di balik euforia emas perdana itu, Bupati Solok, Dr. (HC) Jon Firman Pandu, S.H., menyempatkan diri merespons isu miring terkait pelepasan kontingen di Sport Hall GOR Batubatupang, Kamis (1/10/2026). Acara tersebut dinilai hambar (dilapeh ayam) karena ratusan atlet "hanya" dilepas oleh Staf Ahli Bupati, Irwan Effendi.

​Bupati menegaskan dirinya tidak lepas tangan, melainkan terpaksa absen karena menerima kunjungan mendesak Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya di Posko Bencana Arosuka pasca-musibah banjir bandang (galodo).

​"Saya meminta maaf karena tidak bisa hadir melepas kontingen. Saya sudah memerintahkan Wakil Bupati untuk mewakili. Namun, saat Wamendagri tiba di Arosuka, Wakil Bupati ternyata turut serta mendampingi," jelas Jon Firman Pandu.

​Berjuang Mandiri Tanpa Seragam dan Uang Saku

​Kekecewaan atlet nyatanya berlanjut. Sebanyak 560 orang kontingen dari 37 cabor berangkat ke medan laga tanpa dibekali seragam maupun uang saku. Hingga hari H keberangkatan, hak-hak dasar belum cair akibat kendala birokrasi anggaran. Banyak atlet yang harus merogoh kocek pribadi agar tetap bisa bertanding dan terhindar dari diskualifikasi.

​Kondisi ini diperparah saat pelepasan, di mana jajaran inti KONI tidak hadir penuh; hanya Ketua KONI Doni Zulkifli beserta enam pengurus yang hadir, tanpa Sekretaris dan Bendahara.

​Ketua KONI Kabupaten Solok, Doni Zulkifli, tidak menampik hal ini. "Sebelum berangkat, semua atlet ditanya apakah siap berangkat dengan biaya pribadi? Kami tidak memaksakan karena anggaran belum cair," ungkapnya, seraya menegaskan bahwa KONI akhirnya tidak membebankan target medali apapun pada Porprov tahun ini.

​Ironi Menyakitkan: Gugurnya Sepakbola Sebelum Bertanding

​Di saat cabor bela diri dan menembak mati-matian mendulang emas, Porprov 2026 meninggalkan duka memalukan dengan absennya cabor Sepakbola akibat kelalaian administratif. Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Kabupaten Solok mangkir dalam screening di Kabupaten Padang Pariaman (28/9/2026) dan gagal menginput data atlet ke aplikasi Sirimau KONI Sumbar hingga batas waktu.

​Ini menjadi pukulan telak bagi pemain lokal hasil seleksi berjenjang, sekaligus ironi besar bagi daerah yang aktif menggelar turnamen bergengsi seperti Bupati Solok Cup (BSC) dan Solok Raya Cup (SRC).

​Evaluasi dan Janji Cetak Biru Jangka Panjang

​Keberhasilan cabor Wushu, Bulu Tangkis, Karate, Kick Boxing, dan Perbakin menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Kabupaten Solok memiliki lumbung bibit unggul yang kompetitif, jika saja difasilitasi dengan benar.

​Melihat pengorbanan luar biasa para atlet yang rela berdarah-darah mempertahankan panji daerah, KONI Kabupaten Solok berjanji tidak akan melupakan mereka. Doni Zulkifli memastikan pihaknya telah menyiapkan cetak biru (blueprint) pembinaan jangka panjang berbasis evaluasi Porprov kali ini.

​"Atlet yang telah berjuang dan meraih medali tidak akan kami tinggalkan. Kami sangat memprioritaskan loyalitas serta kesetiaan mereka yang telah rela membela nama Kabupaten Solok," pungkasnya.

​Posisi ke-12 di Porprov XVI ini pada akhirnya bukanlah sekadar catatan sejarah, melainkan tamparan keras sekaligus bahan evaluasi total bagi sistem birokrasi pembinaan olahraga di Kabupaten Solok. Atlet-atlet lokal telah membuktikan ketangguhan mereka tanpa dibayar mahal; kini giliran para pemangku kebijakan yang harus membuktikan komitmennya. (PN-001)


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment