Soroti Perjuangan Olahragawan Kabupaten Solok di Porprov XVI, Ismael Koto: "Mereka Patriot Olahraga, Jangan Disia-siakan!"
Solok, PATRONNEWS.co.id - Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Solok, Ismael Koto, S.H., M.H., memberikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh kontingen Kabupaten Solok yang telah berjuang habis-habisan di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat XVI. Ia menilai keringat dan pengorbanan para atlet, pelatih, ofisial, dan pengurus cabang olahraga (cabor) pada 2-14 Oktober lalu memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar raihan medali, mengingat kondisi daerah yang serba terbatas.Tokoh yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Solok ini menyoroti betapa beratnya beban mental dan fisik para duta olahraga tersebut. Ia mengungkapkan bahwa kontingen harus bertarung di tengah minimnya biaya operasional—bahkan tanpa uang saku dan seragam saat keberangkatan—serta fakta kelam bahwa Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Solok sempat mengalami masa vakum lebih dari empat tahun.
Melihat kondisi tersebut, Ismael Koto mengaku takjub karena para atlet memilih untuk bertahan. "Apresiasi khusus patut diberikan kepada duta olahraga yang tetap membela nama Kabupaten Solok di Porprov dan tidak tergiur pindah ke daerah lain yang mungkin menawarkan fasilitas lebih baik. Hal ini membuktikan bahwa semangat 'nasionalisme' dan kecintaan pada daerah tetap mengakar kuat di diri generasi muda kita. Predikat 'patriot olahraga' sangat layak dan patut disematkan kepada mereka," tegas Ismael.
Lebih lanjut, ia memberikan peringatan keras sekaligus harapan kepada jajaran pengurus KONI Kabupaten Solok serta Pemerintah Daerah untuk benar-benar menghargai kesetiaan para pejuang olahraga tersebut. Ismael mendesak adanya evaluasi menyeluruh dan penyiapan program pembinaan jangka panjang agar bakat-bakat lokal ini mendapat jaminan masa depan.
"Jangan pernah sia-siakan orang yang tetap setia dan loyal kepada daerah. Tidak hanya mereka yang telah mendapatkan medali emas, tapi seluruh olahragawan, baik itu atlet, pelatih, ofisial, maupun pengurus yang rela berdarah-darah untuk Solok," ungkapnya berpesan.
Konteks Perjuangan: Peringkat 12 dan Bukti Ketangguhan Atlet
Pernyataan Ismael Koto menemukan relevansinya ketika melihat dinamika yang terjadi di lapangan. Kontingen Kabupaten Solok memang harus puas mengakhiri perjalanannya di urutan ke-12 dari 19 kabupaten/kota dengan raihan 167 medali (30 emas, 58 perak, dan 79 perunggu). Posisi ini turun dari era kejayaan mereka di lima besar pada 2016. Namun, di balik angka tersebut, mental baja atlet terbukti.
Lima cabor berhasil menjadi tulang punggung pendulang medali dengan status juara umum dan runner-up:
- Wushu: Juara Umum I (8 emas, 10 perak, 8 perunggu).
- Bulu Tangkis: Meraih 3 medali emas dari 5 nomor, terbanyak di tingkat provinsi.
- Karate: Juara Umum II (4 emas, 4 perak, 8 perunggu).
- Kick Boxing: Juara Umum II (4 emas, 10 perak, 4 perunggu) dengan lonjakan medali luar biasa di bawah komando Muhammad Irfan, S.H., M.H., Dt. Rajo Alam.
- Menembak (Perbakin): Juara II Provinsi (3 emas, 6 perak, 2 perunggu) yang disumbangkan oleh Farel, Rudi Wiralaga, dan Adia Hamonangon.
Prestasi emas perdana juga berhasil diukir oleh Taekwondoin Geza Dilaela yang mengalahkan atlet tuan rumah. Semua pencapaian mentereng ini diraih secara mandiri oleh atlet yang banyak di antaranya harus merogoh kocek pribadi untuk bertanding.
Ketangguhan cabor-cabor ini sekaligus menutupi sejumlah catatan kelam birokrasi, mulai dari ketidakhadiran pimpinan daerah saat pelepasan (yang belakangan diklarifikasi Bupati Jon Firman Pandu karena harus mendampingi Wamendagri di posko bencana galodo Arosuka), hingga tragedi memalukan gugurnya cabor Sepak Bola sebelum bertanding akibat kelalaian Askab PSSI Kabupaten Solok dalam administrasi screening.
Pernyataan Ismael Koto menjadi tamparan sekaligus pengingat bahwa di tengah carut-marutnya birokrasi anggaran dan organisasi, ketangguhan serta loyalitas atlet Kabupaten Solok adalah aset tak ternilai. Membiarkan mereka berjuang sendiri tanpa dukungan di masa depan adalah sebuah kerugian besar bagi daerah. Kini, publik menanti realisasi janji KONI untuk menyusun cetak biru (blueprint) pembinaan agar loyalitas sang "patriot olahraga" terbayar lunas. (PN-001)

Post a Comment