Kisah Soeharto Memotong Gaji PNS dan ABRI demi Membangun 999 Masjid Pancasila
Jakarta, PATRONNEWS.co.id – Pada masa pemerintahan Presiden ke-2 RI, Soeharto, terdapat sebuah kebijakan unik yang meninggalkan warisan besar bagi umat Islam di Indonesia. Gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang beragama Islam dipotong setiap bulan. Namun, pemotongan ini bukan untuk membangun infrastruktur negara, melainkan untuk mendirikan masjid di berbagai pelosok Tanah Air.
Kisah ini bermula dari kebiasaan Soeharto saat melakukan kunjungan kerja atau blusukan ke berbagai daerah. Dalam perjalanannya, ia kerap merasa prihatin melihat masyarakat harus berdiri di pinggir jalan, menyodorkan kotak amal untuk membiayai pembangunan masjid desa mereka.
Menurut penuturan putri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut), pemandangan itu sangat membekas di benak sang ayah. Soeharto kemudian memikirkan sebuah gagasan: bagaimana jika jutaan pegawai negeri dan prajurit militer Muslim bergotong-royong menyisihkan sebagian kecil penghasilan mereka untuk membangun tempat ibadah yang layak?
Lahirnya Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP)
Gagasan tersebut akhirnya direalisasikan pada tahun 1982 dengan didirikannya Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP). Yayasan ini secara khusus bertugas menghimpun dana sedekah untuk membangun sarana ibadah, terutama di daerah-daerah terpencil yang minim fasilitas.
Melalui mekanisme pemotongan gaji bulanan, PNS Muslim yang tergabung dalam KORPRI mulai memberikan sumbangan berdasarkan golongannya. Besaran potongannya saat itu terbilang sangat kecil:
- Golongan I: Rp50 per bulan
- Golongan II: Rp100 per bulan
- Golongan III: Rp500 per bulan
- Golongan IV: Rp1.000 per bulan
Setahun kemudian, tepatnya pada 30 Agustus 1983, Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani mengeluarkan keputusan untuk memperluas program ini ke lingkungan militer. Anggota ABRI Muslim menyumbang dengan besaran bervariasi, mulai dari Rp50 untuk tamtama hingga Rp2.000 untuk perwira tinggi.
Dari Recehan Menjadi Tiga Masjid per Bulan
Meski nominalnya tampak kecil, akumulasi potongan gaji dari jutaan abdi negara tersebut menghasilkan dana yang fantastis pada masanya. Dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, Soeharto menyebutkan bahwa sumbangan tersebut mampu terkumpul sekitar Rp250 juta setiap bulannya.
"Dana itu memungkinkan pembangunan sekitar tiga masjid setiap bulan," ungkap Soeharto dalam catatannya. Di sisi lain, ia juga memastikan asas keadilan. Sumbangan dari pegawai negeri non-Muslim dipisahkan dan disalurkan melalui Yayasan Dharmais untuk mendanai berbagai kegiatan sosial, seperti panti asuhan.
Pembangunan masjid pertama di bawah bendera YAMP dimulai pada 1983 dan diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 30 Januari 1985. Masjid-masjid ini memiliki desain arsitektur yang sangat khas, yakni atap tajug bertingkat tiga yang mengadopsi corak tradisional Nusantara. Oleh masyarakat luas, bangunan ikonik ini kemudian dijuluki sebagai "Masjid Pancasila", sebuah nama yang mencerminkan pandangan Soeharto bahwa agama dan dasar negara harus berjalan selaras, bukan dipertentangkan.
Warisan 999 Masjid di Seluruh Negeri
Program pemotongan gaji ini resmi dihentikan saat Soeharto mengundurkan diri dari kursi kepresidenan pada 21 Mei 1998. Kendati demikian, pembangunan masjid tetap berlanjut menggunakan kas yayasan yang sudah telanjur terkumpul.
Hingga akhirnya, pada 9 September 2009, peresmian sebuah masjid di Bekasi menjadi penanda sejarah baru: masjid tersebut adalah masjid ke-999 yang dibangun oleh YAMP. Angka 999 kemudian menjadi jejak monumental dan salah satu warisan paling dikenal dari era Orde Baru.
Rincian Sebaran 999 Masjid Pancasila:
- Permukiman masyarakat umum / daerah terpencil: 569 unit
- Kompleks lembaga pendidikan / pondok pesantren: 200 unit
- Kompleks kantor / perumahan KORPRI: 159 unit
- Kompleks kantor / perumahan ABRI: 61 unit
- Kawasan permukiman transmigrasi: 10 unit
Kini, meski Soeharto telah lama berpulang, ratusan Masjid Pancasila yang bermula dari "uang receh" puluhan hingga ribuan rupiah perak milik para pegawai negeri dan tentara itu, masih berdiri kokoh menjadi tempat sujud umat Islam di seluruh penjuru Indonesia. Sebuah bukti sejarah tentang kekuatan gotong royong abdi negara. (PN-001)

Post a Comment