Cabor Sepakbola Absen di Porprov, Ini Penjelasan Ketua Askab PSSI Kabupaten Solok Trio Karno Vivo
Solok, PATRONNEWS.co.id — Tim sepak bola Kabupaten Solok dipastikan tidak ambil bagian dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026. Keterbatasan anggaran menjadi alasan utama Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Kabupaten Solok terpaksa menghentikan tahapan keikutsertaan tim, meski proses seleksi pemain telah rampung dilakukan.Ketua KONI Kabupaten Solok, Doni Zulkifli, S.T., Datuak Majolelo, membenarkan hal tersebut. Ia menjelaskan, Askab PSSI Kabupaten Solok sebenarnya telah melakukan seleksi pemain hingga melengkapi komposisi tim dan data. Namun, tim urung mengikuti tahapan screening data di Padang Pariaman pada Senin (28/9/2026) lalu karena terbentur masalah dana.
"Seluruh persiapan dan persyaratan sudah mereka penuhi. Kami dari KONI juga telah memanggil pihak Askab dan mengomunikasikannya kepada Pemkab Solok, tetapi persoalan anggaran yang menjadi alasan utama ini tidak menemukan solusi," ungkap Doni.
Doni menegaskan, batalnya cabang olahraga (cabor) sepak bola ini murni disebabkan oleh faktor anggaran, kondisi yang sejatinya juga dihadapi oleh cabor-cabor lain. Dari usulan anggaran sekitar Rp5,5 miliar yang diajukan KONI ke Pemkab Solok, realisasinya hanya berkisar Rp2,5 miliar.
"Ini adalah pilihan berat dan sulit, tetapi kita harus menghormati keputusan Askab yang lebih memilih tidak ikut serta," tambahnya.
Kekecewaan Askab PSSI dan Rincian Anggaran
Sementara itu, Ketua Askab PSSI Kabupaten Solok, Trio Karno Vivo, menegaskan bahwa keputusan pahit ini diambil setelah melalui berbagai pertimbangan matang. Legislator Partai Golkar tersebut membeberkan, dari usulan anggaran Rp150 juta yang diajukan ke Pemkab Solok melalui KONI, dana yang disetujui hanya Rp55,5 juta atau sekitar sepertiga dari kebutuhan.
Trio mengaku telah berupaya menjalin komunikasi intensif dengan Bupati Jon Firman Pandu, Wakil Bupati H. Candra, Ketua KONI Doni Zulkifli, hingga Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Solok. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan jalan keluar.
"Kami sangat kecewa. Begitu juga dengan para pemain, orang tua, pelatih, ofisial, dan masyarakat. Kami sudah berusaha maksimal menempuh segala cara karena sepak bola adalah bagian dari kehidupan dan mimpi generasi muda di Kabupaten Solok," ujar Trio.
Ia sangat menyayangkan hal ini karena secara wewenang, Askab PSSI telah menuntaskan tugasnya. Seleksi berjenjang telah dilakukan dengan menyaring sekitar 1.000 calon pemain dari seluruh nagari, lalu mengerucut menjadi 37 pemain. Melalui tahap Pemusatan Latihan (TC), skuad kembali diseleksi menjadi 33 orang, hingga akhirnya didapatkan skuad final sebanyak 23 pemain.
Data seluruh personel tersebut juga telah diinput ke aplikasi "Satu Data" KONI Kabupaten Solok untuk diintegrasikan dengan aplikasi "Sirimau" KONI Sumbar. Menurut Trio, setelah data diserahkan, tanggung jawab pendaftaran atlet ke ajang Porprov sepenuhnya berada di tangan Pemkab Solok melalui KONI.
Namun, kendala kembali muncul menjelang pendaftaran. KONI Kabupaten Solok menyebutkan hanya bisa memfasilitasi 18 atlet, sementara 5 pemain lainnya diminta menggunakan dana mandiri. Adapun rincian alokasi dana Rp55,5 juta tersebut hanya diperuntukkan bagi TC sebesar Rp24.705.000 dan biaya operasional selama Porprov sebesar Rp30.800.000.
"Artinya, selama Porprov berlangsung, alokasi anggaran operasional untuk tim hanya Rp30,8 juta. Itu pun jadwal pencairannya belum bisa dipastikan. Sehingga, dengan berat hati kami memilih tidak ikut di Porprov kali ini. Lebih baik tidak memaksakan diri daripada nantinya terjerat masalah hukum," pungkasnya.
Sisakan Kekecewaan Mendalam
Cabor sepakbola yang menjadi andalan Kabupaten Solok, dipastikan absen di Porprov Sumbar XVI setelah Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Kabupaten Solok absen dalam tahapan screening di Kabupaten Padang Pariaman pada Senin (28/9/2026). Selain itu, data atlet, pelatih, dan ofisial urung diinput ke dalam aplikasi Sirimau KONI Sumbar hingga batas waktu penutupan pada Rabu (30/9/2026) malam.
Absennya cabor bergengsi ini diyakini memberikan pukulan telak bagi para atlet. Pasalnya, sebelum Porprov digelar, Askab PSSI telah melakukan seleksi yang sangat ketat dan berjenjang—dimulai dari tingkat nagari, kecamatan, hingga mengerucut ke tingkat kabupaten.
Luka tersebut terasa semakin dalam jika melihat tingginya antusiasme masyarakat dan generasi muda Kabupaten Solok terhadap olahraga si kulit bundar. Bagi masyarakat setempat, sepakbola bukan sekadar pertandingan, melainkan harga diri dan kepribadian yang sudah melekat erat.
Kabupaten Solok juga dikenal sebagai daerah yang paling aktif menggelar turnamen sepakbola bergengsi. Pada masa kepemimpinan Bupati Capt. Epyardi Asda, M.Mar. (2021-2025), Pemkab Solok rutin menggelar Bupati Solok Cup (BSC), yang kini tongkat estafetnya dilanjutkan oleh Bupati Jon Firman Pandu lewat ajang Solok Raya Cup (SRC). Ironisnya lagi, Wakil Bupati Solok saat ini, H. Candra, S.H.I., dikenal luas sebagai sosok yang "gila bola" dan pernah menjuarai berbagai kejuaraan sepakbola tingkat Sumbar. Sebuah kenyataan yang sangat miris! (PN-001)

Post a Comment