News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Dari Anak Pulau Menjadi Pamong: Kisah Pengabdian yang Menginspirasi

Dari Anak Pulau Menjadi Pamong: Kisah Pengabdian yang Menginspirasi

Ada pepatah yang mengatakan, pengalaman adalah guru terbaik. Namun pengalaman akan hilang ditelan waktu jika tidak diwariskan dalam bentuk tulisan. Karena itu, setiap birokrat yang memiliki rekam jejak panjang sesungguhnya memikul tanggung jawab moral untuk meninggalkan jejak pemikiran bagi generasi penerus. Itulah yang dilakukan Azman melalui buku Anak Pulau Jadi Pamong.

Azman bukan orang baru bagi saya. Ia pernah menjadi mahasiswa sekaligus anak bimbingan skripsi saya di Jurusan Politik Angkatan 26 Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta. Sejak menjadi mahasiswa, saya mengenalnya sebagai pribadi yang tekun, rendah hati, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Puluhan tahun kemudian, saya melihat semangat itu tidak pernah padam.

Yang lebih membahagiakan, Azman mengakui bahwa keinginannya menulis buku ini terinspirasi setelah membaca biografi saya, Koki Otonomi Daerah. Inspirasi itu kemudian tumbuh menjadi tekad untuk merekam perjalanan pengabdiannya sendiri sebelum memasuki masa purnatugas. Bagi saya, itulah makna sesungguhnya dari sebuah karya: menginspirasi lahirnya karya-karya berikutnya.

Buku ini merekam perjalanan seorang anak pulau Belakang Padang, Batam, yang mengabdikan hampir empat dekade hidupnya sebagai aparatur pemerintah daerah. Kariernya bukan karier yang dibangun melalui jalan pintas, melainkan melalui proses panjang dari bawah. Ia antara lain pernah menjadi kepala desa, sekretaris kecamatan, camat, Kepala Bagian Pemerintahan, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, hingga akhirnya dipercaya memimpin Dinas Pemadam Kebakaran Kota Batam selama sekitar enam belas tahun.

Lama menjabat sebagai Kepala Dinas Pemadam Kebakaran bukanlah kebetulan. Jabatan itu menunjukkan besarnya kepercayaan yang diberikan pimpinan daerah terhadap kapasitas, integritas, dan kepemimpinannya. Dalam birokrasi, kepercayaan adalah penghargaan yang tidak mudah diperoleh dan dipertahankan.

Yang menarik, buku ini tidak sekadar menyusun daftar jabatan yang pernah diemban. Azman menghadirkan kisah-kisah nyata tentang dinamika birokrasi lokal, tantangan tugas pamong dalam melakukan pelayanan publik, hingga suka duka menjadi seorang pamong yang tinggal di daerah kepulauan yang bekerja tergantung iklim dan cuaca. Pembaca diajak melihat bahwa pemerintahan bukan hanya soal aturan dan administrasi, tetapi juga soal keberanian mengambil keputusan, kemampuan membangun komunikasi, dan ketulusan melayani masyarakat di pelosok negeri.

Di tengah semakin langkanya birokrat yang menuliskan pengalaman hidupnya, kehadiran buku ini menjadi sangat penting. Banyak pengetahuan praktis (tacit knowledge) yang sesungguhnya hanya dimiliki oleh para pelaku di lapangan. Jika tidak ditulis, pengalaman berharga itu akan ikut hilang ketika seseorang memasuki masa pensiun.

Bagi para aparatur sipil negara, buku ini memberikan pelajaran bahwa keberhasilan dalam birokrasi tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang naik jabatan, tetapi oleh konsistensi menjaga integritas, profesionalisme, dan dedikasi dalam setiap amanah yang diemban. 

Bagi mahasiswa ilmu pemerintahan dan politik, administrasi publik, maupun kebijakan publik, buku ini layak dijadikan bacaan pendamping. Teori-teori birokrasi yang dipelajari di ruang kuliah akan terasa lebih hidup ketika dipertemukan dengan pengalaman empiris seorang pelaku yang mengabdikan dirinya selama hampir empat puluh tahun.

Pada akhirnya, Anak Pulau Jadi Pamong bukan sekadar autobiografi seorang birokrat. Buku ini adalah kesaksian tentang arti pengabdian, ketekunan, loyalitas, dan kecintaan kepada pelayanan publik. Ia mengingatkan kita bahwa negara dibangun bukan hanya oleh tokoh-tokoh besar di tingkat nasional, tetapi juga oleh ribuan pamong yang setiap hari bekerja dengan senyap di ratusan daerah di Nusantara.

Saya berharap buku ini dibaca secara luas, khususnya oleh para pamong muda, mahasiswa, dan siapa pun yang menaruh perhatian pada tata kelola pemerintahan. Semoga semakin banyak birokrat yang terdorong menuliskan pengalaman hidupnya sehingga lahir khazanah literatur pemerintahan Indonesia yang semakin kaya.

Selamat kepada Azman atas lahirnya karya yang bernilai ini dengan dibantu oleh Bung Socrates, seorang jurnalis senior yang pernah menjadi Pemred Batam Pos. Semoga menjadi ladang amal ilmu yang terus mengalir manfaatnya bagi generasi pamong Indonesia. (***)


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment