News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

PPMI Nasional Kecam Pembubaran Film Pesta Babi: Negara Takut Rakyat Kritis

PPMI Nasional Kecam Pembubaran Film Pesta Babi: Negara Takut Rakyat Kritis

Solok, PATRONNEWS.co.id - Maraknya pembubabaran nonton bareng (Nobar) dan diskusi film dokumenter pesta babi yang dilakukan oleh oknum aparat TNI dengan alasan kondusifititas dan dinilai film tersebut mengandung kontroversial yang dapat memecah belah publik.

Whatdoc mencatat terdapat 21 intimidasi serius selama pemutaran film ini di berbagai daerah.Teranyar di Kota Ternate Maluku Utara kembali di bubarkan oleh pihak TNI pada beberapa hari lalu dengan alasan kegiatan nobar dan diskusi film tersebut tidak mengantongi izin dari pihak kepolisian dan pihak kampus film karangan Dandy Laksono dan Cypre Dale dianggap kontroversial dan provokatif.

Sekjen PPMI nasional Ach. Zainuddin mengecam tindakan pembubaran fim pesta babi di berbagai daerah merupakan tindakan yang mencoreng demokrasi. Sebab menurutnya negara demokrasi harus memberikan ruang kebebasan yang telah dijamin dalam konstitusi.

"Pembubaran film ini menunjukan betapa takutnya mereka dengan adanya diskusi dan nonton film sehingga ini bukti nyata kalau demokrasi sudah mati," jelasnya kepada wartawan Kamis 21 Mei 2026.

Zainuddin sapaan akrabnya menambahkan bahwasanya kegiatan nobar film ini seharusnya menjadi bahan refleksi bagi pemerintah untuk menghentikan segala bentuk penjajahan di atas tanah yang katanya sudah merdeka.

Negara harus benar benar memberikan ruang kebebasan bagi masyrakat sipil dalam berkumpul berserikat menyampaikan pendapat bukan malah menjadi aktor yang menyebabkan turunnya demokrasi sebagai hak konstitusional.

"Hentikan segala bentuk tindakan intimidasi pembubaran kegiatan nobar film dan diskusi," ungkapnya.

Dia juga berharap negara harus bisa hadir memberikan ruang kebebasan sipil jangan sampai memberikan tindakan yang membuat kemunduran demokrasi dengan alasan yang sama tidak akal.

"Saya rasa film ini ngak ada yang mengandung kotroversi dan provokator adegannya berdasarkan jurnalistik investigatif," ungkapnya.

Dia juga menegaskan jika pemerintah tidak bersalah ngapain membubarkan kegiatan diskusi film. Menurutnya kejadian ini merupakan potret negara yang takut pada rakyat yang kritis.

"Tindakan oknum TNI merupakan bukti bahwa negara takut pada rakyat sipil yang kritis dan tahu betapa busuknya sistem pemerintahan di negara ini," ujarnya.

Zainuddin juga mendesak dengan tegas hentikan segala bentuk intimidasi pada jurnalis rakyat sipil yang melakukan nobar dan diskusi film. Sebab menurutnya negara harus benar benar menjamin demokrasi berjalan sebagaimana mestinya.

"Hentikan tindakan intimidasi terhadap rakyat sipil dan jurnalis tegakkan demokrasi di negara ini," pungkasnya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia FAA PPMI Padang Eko Kurniawan .

"Film ini pada akhirnya tidak saja mengajak kita untuk melihat Papua baik secara struktural dan eksistensial, tetapi juga mengarahkan kita untuk mempertanyakan bagaimana pembangunan itu harus dimaknai.Maka kawan kawan aktivitas pers mahasiswa memiliki daya juang kritis untuk membangun sebuah kerangka berpikir bahwa kita butuh posisi tawar menyalurkan menyampaikan pendapat," jelas alumni Fakultas Hukum Universitas Andalas tersebut.

Melalui daya diskusi di berbagai kampus,FAA PPMI Padang mendukung penuh kegiatan pemutaran film pesta babi seperti di Fakultas Hukum Universitas Andalas, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang  menggelar pemutaran  film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono di sebuah cafe di Sawahan Kota Padang. (EKO/PN-001)


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment