News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Willie Salim dan Ustadz Deri Sulaiman Nikmati Teh Talua "Mami Ria" Sambil Main Domino di Kediaman Ismael Koto

Willie Salim dan Ustadz Deri Sulaiman Nikmati Teh Talua "Mami Ria" Sambil Main Domino di Kediaman Ismael Koto

Solok, PATRONNEWS.co.id – Ustadz nasional asal Nagari Saniangbaka, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Deri Sulaiman, mengenang kembali masa kecilnya, dengan mengajak konten kreator nasional, Willie Salim bermain domino di kediaman Anggota DPRD Kabupaten Solok Ismael Koto, di Puruak, Saniangbaka, Jumat (27/2/2026). Nostalgia itu, dilengkapi dengan nikmatnya "Teh Talua" buatan Mami Ria atau Fitriya Ismael, istri dari Ismael Koto, yang selama dikenal piawai membuat Teh Talua.

Ustadz Deri Sulaiman "bermandan" dengan Ismael Koto, sedangkan Willie Salim "bermandan" dengan salah satu Tim Creator-nya. Hasilnya, sudah bisa ditebak, Deri Sulaiman dan Ismael Koto yang lebih "berpengalaman", dengan mudah mengalahkan Willie Salim.

"Selingan" bermain domino sambil menikmati Teh Talua buatan Mami Ria tersebut, merupakan rangkaian kegiatan konten kreator nasional Willie Salim dalam momentum buka puasa bersama warga terdampak banjir dan galodo di Saniangbaka, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumbar, Jumat (27/2/2026). Untuk pembangunan jembatan tersebut, Willie Salim memberikan bantuan dari kantong pribadinya sebesar Rp1 miliar. Kegiatan itu menjadi salah satu rangkaian dalam peletakan batu pertama perbaikan Jembatan Balai Lalang yang rusak parah akibat terjangan banjir. Kegiatan tersebut turut didampingi oleh Ustadz nasional Deri Sulaiman, Anggota DPRD Kabupaten Solok, Ismael Koto, SH, mantan Walikota Solok dua periode H. Zul Elfian, SH, M.Si, tokoh masyarakat Beni Sanjaya yang akrab disapa Buya Beni, sejumlah tokoh masyarakat dan ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, serta tokoh pemuda setempat.

Peletakan batu pertama Jembatan Balai Lalang menjadi simbol dimulainya pembangunan kembali akses vital masyarakat yang sebelumnya lumpuh akibat bencana. Jembatan tersebut merupakan jalur penting penghubung aktivitas warga yang mengalami kerusakan berat pascabanjir dan galodo yang melanda Sumatera Barat, termasuk Kabupaten Solok dan Nagari Saniangbaka.

Sekilas Willie Salim, Konten Kreator 7 Miliar

Willie Salim yang lahir pada 27 Mei 2002 Toboali, Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, adalah seorang pembuat konten di media sosial. Ia aktif di platform media sosial sosial TikTok, YouTube dan Instagram.

Willie Salim mengenyam pendidikan sekolah dasar di kampung halamannya di Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, Bangka Belitung. Kemudian saat duduk di bangku SMA, Willie Salim dan orang tuanya pindah ke Jakarta agar Willie bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik di ibu kota. Saat duduk di bangku SMA, Willie diterima di sekolah menengah internasional di Jakarta. Willie Salim awalnya membuat akun YouTube pada tahun 2014, tetapi seiring berkembangnya TikTok, ia beralih ke TikTok pada tahun 2020 dan lebih aktif membuat konten di TikTok. Willie Salim terkenal dengan konten "Ayo Borong" dimana ia membeli banyak produk seperti Indomaret dan Alfamart yang kemudian ia bagikan kepada orang lain. Akun YouTube Willie Salim telah menghasilkan 1400 konten video dan memiliki 37,5 juta pelanggan serta telah dilihat 7 miliar kali.

Sekilas Deri Sulaiman, dari Musisi Band Metal ke Jalur Dakwah

Deri Guswan Pramona, lahir 1 Agustus 1978, atau lebih dikenal dengan nama Derry Sulaiman, adalah pendakwah Jamaah Tabligh dan musisi Indonesia. Dahulu dikenal sebagai gitaris grup musik Betrayer, ia memilih mundur pada 2000 dan fokus untuk mendalami dakwah dan musik Islami.

Derry Sulaiman dilahirkan dengan nama Deri Guswan Pramona dari keluarga Minangkabau di Nagari Saniangbaka, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat pada 1 Agustus 1978. Ayahnya, Haji Nasrullah bin Ismail (1953–2020),merupakan lulusan Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang. Derry menamatkan pendidikan Madrasah Diniyah Awaliyah di kampung halamannya, Solok, pada 1985 hingga 1991, MTs Padang Panjang (1991–1993), dan SMK SMTI Padang (1993–1996). Ketika kelas VIII Tsanawiyah, ia dan teman-temannya sering mengikuti festival-festival band yang saat itu diadakan di Sumatera Barat. Namun, saat jelang ujian akhir kelas IX Tsanawiyah, ibunya meninggal dunia dalam suatu kecelakaan, sedangkan ayahnya luka sangat parah.

Ketika bersekolah di Padang, Derry bergaul dengan anak-anak metal untuk menjadi pelarian masalah hidupnya. Ia membentuk band pertamanya bernama Liang Lahat. Ayahnya tidak menyukai hal tersebut dan menyarankannya untuk berkuliah. Pada 1996, Derry memilih untuk merantau ke Jakarta untuk menjadi anak band. Ia hidup berpindah-pindah dari satu rumah anak band ke rumah lainnya.

Pada 1998, ia mundur sebagai gitaris grup band Betrayer dan pindah ke Bali untuk lebih bebas dan gila. Ia dan teman-temannya membentuk band Born by Mistake. Setelah merampungkan sebuah album, ia dinasihati pendiri band trash metal legendaris Rotor, Irfan Sembiring, untuk bertobat.

Setelah dinasihati Irfan Sembiring, Derry merasa banyak diajak orang dari Jamaah Tabligh dengan lemah lembut untuk pergi salat dan berdiskusi perkara agama Islam di masjid. Menurut pendakwah yang mengajak Derry, bermain musik dan punya tato bagus, asalkan salat tidak ditinggalkan. Pada 2000, ia memutuskan untuk beriktikaf selama tiga hari di sebuah masjid di Bali dan menemukan ketenangan. Sejak saat itu, Derry menimba ilmu agamanya ke luar negeri seperti India, Pakistan, dan Bangladesh. Kembali ke tanah air, ia aktif berdakwah di Bali dan beberapa kota di Indonesia.

Dengan setelan gamis dan imamah sorban, Derry mulai berdakwah dari Masjid Muhammad Kota Denpasar berkeliling di pantai-pantai sepanjang Bali yang waktu itu baru saja dilanda peristiwa Bom Bali 2002. Awalnya dia meninggalkan musik karena kesibukan berdakwah, tetapi pada 2005 ia memutuskan kembali bermusik dengan genre religi Islam untuk menyesuaikan diri dengan kultur Hindu Bali dan target dakwahnya yaitu wisatawan mancanegara dan anak-anak muda di kafe, bar, diskotek, dan pinggir pantai. Selain berdakwah, ia juga mulai mengembangkan bakat dan profesi sebagai pelukis kaligrafi Arab Islam.

Pada 2007, Derry mengalami kesulitan keuangan di mana banyak hartanya terjual dan banyak memiliki utang. Suatu hari sepulang salat dari Masjid Muhammad Kota Denpasar, ia didatangi seorang keturunan Arab Yaman yang menasihatinya bahwa orang kaya mati dan orang miskin mati. Dari kalimat singkat itu ia terinspirasi menciptakan lagu berjudul "Dunia Sementara Akhirat Selamanya" yang nantinya berhasil sukses di pasaran setelah menjadi lagu untuk sinetron Emak Ijah Pengen ke Mekah di stasiun televisi SCTV. Dari kesuksesan itu pada 2015 ia mendapatkan kontrak dari stasiun televisi Trans 7 untuk menjadi pembawa acara Ngopi (Ngobrol Perkara Iman) bersama Sunu (mantan vokalis Matta Band) dan Ray (mantan vokalis Nineball). Sejak saat itu Derry menetap di Jakarta hingga sekarang.

Pada Ramadan 2025, terungkap bahwa Derry dengan disaksikan oleh Felix Siauw berhasil mengislamkan dokter Richard Lee sejak 2 tahun sebelumnya, dan Derry baru mengumumkan keislaman Richard melalui unggahan di akun Instagramnya. Di bulan itu, ia juga berhasil memandu proses mualaf kreator konten Bobon Santoso di Masjid An Ni'mah, Citra Grand Cibubur.

Sekilas Ismael Koto, dari Birokrasi ke Dunia Politik

Ismael Koto menggebrak dunia perpolitikan di Solok Raya (Kabupaten Solok, Kota Solok, Solok Selatan) pada medio 2014. Setelah didaulat menjadi Ketua DPC Partai Gerindra Kota Solok, Ismael Koto kemudian tampil di kontestasi Pilkada Kota Solok 2015. Saat itu, Ismael menantang dua petahana (incumbent) sekaligus. Yakni Walikota Irzal Ilyas dan Wakil Walikota Zul Elfian. Sebagai pendatang baru di Pilkada, Ismael Koto yang saat itu berpasangan dengan Jon Hendra, secara spektakuler meraih suara terbanyak kedua di bawah Zul Elfian dan Reinier. Namun, mampu mengalahkan Irzal Ilyas dan Alfauzi Bote. 

Magnet Ismael Koto saat itu, adalah sebagai figur yang sukses di bidang bisnis dan birokrasi. Meski, di gambaran masyarakat Kota Solok saat itu, dirinya lebih diasumsikan sebagai pengusaha yang menggeluti beragam bisnis, seperti agen pelumas dan pemilik sejumlah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) atau sering disebut Pom Bensin. Padahal, di bidang birokrasi, sebagai PNS di Pemkab Solok Selatan, Ismael merupakan birokrat senior yang cerdas dan problem solver (pemberi solusi beragam masalah). Hal itu dibuktikannya, dengan jabatan tetakhir sebagai Asisten 1, Bidang Pemerintahan. Padahal, dirinya hanya sekitar 15 tahun menjadi PNS, sejak diangkat tahun 2000.

Setelah terjadi suksesi kepemimpinan di Partai Gerindra Kota Solok, Ismael Koto ternyata menyeberang ke Kabupaten Solok setelah didaulat menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Solok. Dalam perjalanannya, Ismael Koto awalnya tercatat maju di kontestasi Pileg DPR RI, kemudian ke kontestasi DPRD Sumbar Dapil Solok Raya, dan akhirnya dengan berbagai pertimbangan, maju di kontestasi Pileg DPRD Kabupaten Solok Dapil 2 (X Koto Singkarak, X Koto Diateh, Junjung Sirih). 

Ismael Koto lahir pada 31 Agustus 1967 di Kerinci, Provinsi Jambi, dari pasangan Dinar Sutan Pamuncak (Suku Balaimansiang Saniang Baka) dan Hj Aminah Kadir (Suku Koto Saniang Baka). Ismael lahir di Kerinci, karena saat itu, ayahnya adalah seorang marinir KKO yang bertugas di Kerinci dan menjadi Bendahara PRRI di wilayah Kerinci yang saat itu termasuk dalam provinsi Sumatera Tengah.

Ibarat buah jatuh tak jauh dari batangnya, silsilah keluarga Ismael Koto diisi oleh tokoh-tokoh berpengaruh di Saniang Baka, Kabupaten Solok. Kakeknya, Abdul Kadir merupakan anak dari Dt Mangkuto Pangeran, yang merupakan Lareh Singkarak. Di silsilah tersebut juga ada nama Mustafa Kadir, ayah dari Ike Agung Mustika Putra, owner Tiga Warna Entertainment yang pernah menjadi Sekda DKI Jakarta. Mustafa Kadir sendiri merupakan rekan satu leting mantan Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin dan mantan Walikota Solok Alimin Sinapa. 

Ismael menempuh pendidikan di Kota Sungai Penuh, Kerinci, Provinsi Jambi. Yakni di SDN 5 Sungai Penuh, SMPN 3 Sungai Penuh dan SMAN 1 Sungai Penuh. Pada tahun 1986, Ismael Koto yang selalu berada di rangking teratas di sekolah menempuh pendidikan strata satu (S1) di Fakultas Ekonomi, Universitas Bung Hatta, Kota Padang. Setahun berselang, Ismael mengikuti ujian sistem penerimaan mahasiswa baru (Sipenmaru) dan diterima di Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand) Padang.

Kuliah Sambil Jadi Sopir Angkot

Berkuliah di FH Unand Ismael merasakan beratnya perjuangan hidup di perantauan. Namun, tantangan itu justru menjadi peluang baginya. Berbekal mobil Jimny milik orang tuanya, Ismael atas saran salah seorang temannya, Bustari Simamora, menjual mobil tersebut dan membeli sebuah mobil Angkot. Mobil jenis Datsun itu dibeli pada tahun 1989, atau saat dirinya masih kuliah di tingkat tiga.

Karena saat itu jadwal kuliah mulai longgar, Ismael menjalankan sendiri Angkot tersebut. Di saat jadwal kuliah, Angkot tersebut dioperasikan secara bergantian bersama Yanuar Anadi, SH, MH, M.Kn, teman kuliahnya yang kini menjadi Hakim Tipikor di Pekanbaru, Riau. Aktivitas kesehariannya pun akhirnya berubah. Ismael dengan ketekunannya, membuat satu mobil Angkot tersebut akhirnya bertambah, hingga menjadi tiga unit Angkot. Hal ini, juga mengantarkan dirinya terjun ke dunia penjualan mobil-mobil bekas.

Menjadi sopir Angkot dan berbisnis penjualan mobil bekas, membuat Ismael seringkali mengunjungi bengkel. Terutama untuk melakukan servis dan perawatan berkala. Di saat itu, muncul lagi ide membuka usaha bengkel dan penjualan spare part (suku cadang) mobil. 

Pengusaha Kecil Teladan Nasional

Pada tahun 1992, saat masih menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Unand, Ismael Koto dinobatkan sebagai Pengusaha Kecil Teladan Nasional. Keberhasilan tersebut, menjadi berkah kedua baginya setelah pada 22 Agustus 1991, dirinya menjadi seorang ayah, setelah dr. Dinda Genisya Utami lahir. 

Atas keberhasilannya meraih prediket Pengusaha Kecil Teladan tingkat nasional tersebut, Ismael mendapatkan kesempatan Diklat/magang di Akademi Pimpinan Perusahaan di Kementerian Perdagangan. Di samping itu, dirinya juga mendapatkan hadiah modal usaha Rp 100 juta dari PT Pertamina. Jumlah uang yang sangat besar kala itu. Uang tersebut, digunakannya untuk membeli tanah dan membangun bengkel sendiri, serta mendatangkan mekanik dari Auto 2000 Padang. 

Tamat dari FH Unand tahun 1993, Ismael kemudian mengelola bengkel dengan manajemen yang baik dan administrasi yang rapi. Ismael mengajukan penawaran ke Bupati Sungai Penuh, agar semua kendaraan dinas milik Pemda, diservis berkala di bengkelnya. Hal yang sama juga diajukan ke seluruh BUMN dan BUMD. Penawaran ini disambut antusias, karena status bengkel tersebut sudah modern dan dilengkapi fasilitas lengkap, seperti ruang tunggu nyaman yang dilengkapi televisi, makanan kecil, air minum dan lainnya. 

Terjun ke Politik 

Eskalasi politik di Indonesia pada tahun 1998 yang ditandai beralihnya Era Orde Baru (Orba) ke Era Reformasi, ikut menyeret Ismael Koto. Hidup dalam lingkungan Muhammadiyah dan Ibunya, Hj Aminah Kadir, yang merupakan Sekretaris Muhammadiyah Kerinci, membuat Ismael Koto, merapat ke Partai Amanat Nasional (PAN). Karena PAN didirikan oleh Amien Rais yang merupakan mantan Ketua PP Muhammadiyah.

Karena sebelumnya aktif di organisasi Muhammadiyah di Jambi dan dikenal sebagai pengusaha, Ismael Koto didaulat dan diminta oleh Ketua DPW PAN Provinsi Jambi saat itu, Zulkifli Nurdin, menjadi Bendahara DPW PAN Jambi. Sekretaris DPW PAN Jambi saat itu adalah Rizal Jalil, yang belakangan menjadi Ketua BPK RI. Zulkifli Nurdin sendiri, akhirnya terpilih sebagai Gubernur Jambi.

Menjadi PNS

Kedekatannya dengan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin dan Bemdahara DPW PAN Provinsi Jambi, pada tahun 2000, Ismael Koto ditawarkan menjadi PNS. Tawaran itu, sempat ditolak Ismael, dengan alasan dirinya nyaman sebagai pebisnis. Namun, berbagai masukan dan pertimbangan, terutama dari keluarga, akhirnya tawaran itu diterimanya. 

Setelah diterima dan mengikuti Latihan Prajabatan (LPJ), Ismael langsung ditunjuk sebagai Sekretaris Camat di Kecamatan Hamparan Rawa, Sungai Penuh. Tapi, tak lama setelah itu, muncul UU Otonomi Daerah, yang menegaskan bahwa pangkat minimal Sekcam III.B, sementara Ismael masih IIIA. Akhirnya, Ismael dipindahkan menjadi Kasi Umum Kelurahan di Sungai Penuh. Enam bulan setelahnya, Ismael kemudian Kasubag Bantuan Hukum Sekda Kabupaten Kerinci. Lalu, ditarik ke Kasi Promosi di Dinas Perdagangan, karena diminta Dekranasda. 

Pindah ke Solok Selatan

Pada tahun 2005, Ismael Koto sempat menemani salah satu temannya melihat proyek tender pembangunan jalan di Solok Selatan. Satu ketika, dirinya bertemu dengan Bupati Solsel saat itu, Syafrizal J. Dari pembicaraan panjang lebar, teman dari Kerinci tersebut, menyatakan bahwa Ismael adalah seorang PNS asal Solok di Kerinci. Syafrizal J terkejut, dan langsung menawarkan untuk pindah ke Solok Selatan. Tak lama kemudian, Ismael pindah ke Solsel dan diserahi amanah sebagai Dirut Perusda Sarantau Sasurambi, yang bergerak di bidang perkebunan dan perdagangan. 

Enam bulan setelah itu, ada masalah pembebasan lahan waterboom di Kecamatan Pauh Duo Pekonina. Yang dihadiri Muspida Plus. Termasuk Dandim Solok. Rapat sempat deadlock, saat para pejabat Pemkab Solsel menyarankan untuk membayar ganti rugi. Lalu bupati bingung mencari uang Rp 15 miliar. Saat dimintai pendapat berbagai pihak, rata-rata menyarankan membayar. Padahal lahan waterboom tersebut adalah tanah negara. 

Saat rapat deadlock, Ismael Koto kemudian melakukan interupsi dan mengeluarkan pendapat. Bahwa sesungguhnya tanah tersebut tak usah diganti, dengan argumen hukum yang jelas. Bupati, Muspida, dan pejabat di Pemkab Solsel terkejut. Namun, merasa terbantu dengan argumen hukum tersebut, karena bisa menyelamatkan anggaran. 

Bupati Syafrizal J, langsung berujar; "Seperti ini lah pejabat yang saya cari. Yang seperti ini, pantas jadi Kabag Hukum". Hanya dua minggu kemudian, Ismael dilantik jadi Kabag Hukum Pemkab Solsel. Di jabatan itu, Ismael semakin dikenal sebagai penyelesai masalah (problem solver). Karena banyak menyelesaikan persoalan hukum antara Pemkab Solsel dan masyarakat.

Satu ketika, di tahun 2007, Bupati Solsel didemo oleh masyarakat dan LSM, terkait penerimaan CPNS. Ketika itu, masyarakat tidak menerima hasil pengumuman yang keluar di koran. Bupati saat itu didampingi kepala BKD, tidak bisa menjawab secara teknis dan logika. Malah membuat keruh suasana. Bupati memerintahkan memanggil Kabag Hukum, Ismael Koto. 

Sesampai di lokasi, Ismael Koto diperintahkan menjawab pertanyaan itu, di dalam ruangan bupati kepada para perwakilan. Saat itu, Ismael Koto balik menantang; "Masih ada nggak, yang harus mendengar. Bila perlu semua pendemo hadir, jangan cuma perwakilan". Bupati, menanyakan tidak muat jika semua pendemo masuk ruangan bupati. Akhirnya, rapat dipindahkan ke Aula Rapat Bupati dan Wabup. Lalu Ismael mempersilakan wakil pendemo menyampaikan keberatan. Ismael menjawab teknis dan rinci sesuai fakta-fakta hukum. Akhirnya, pendemo menyatakan kepuasan atas jawaban. Bahkan, secara aklamasi menyampaikan ke bupati, ini yang cocok jadi kepala BKD. 

Suara dari pendemo tersebut, membuat Bupati Syafrizal J memerintahkan Sekda, lewat telepon, untuk menyusun, perombakan SOTK. Dan meminta Ismael Koto menjadi Kepala BKD, sebagai wujud terima kasih saat "menyelesaikan" aksi demo sebelumnya.

Tahun 2010, Kabupaten Solok Selatan menjalani Pilkada. Saat itu, Ismael Koto disebut-sebut mendukung Syafrizal J, dipanggil dua kandidat lain. Yakni Muzni Zakaria dan Khairunnas yang meminta mendukung mereka. Namun, dengan sportif, Ismael menyampaikan permohonan maaf, karena tidak bisa mendukung karena sebelumnya, dirinya dibawa Syafrizal J pindah ke Solsel. Nyatanya, Syafrizal kalah. Semua orang memprediksi Ismael akan dihabisi, atau di-nonjob-kan bupati baru, Muzni Zakaria. 

Saat apel pertama, di atas podium, Muzni menyampaikan bahwa banyak masyarakat dan timnya, berharap dan meminta Ismael di-nonjob-kan. Nama Ismael disebut, banyak mata memandangnya sinis. Tapi, saat memimpin barisan pasukan BKD, Ismael yang berdiri dengan sikap sempurna, menjawab dengan lantang; "Saya siap di-nonjob-kan". 

Namun, Muzni Zakaria mengatakan bahwa dirinya punya penilaian tersendiri. Menurutnya, dirinya melihat karakter Ismael Koto, seperti Pierre Tendean saat menyelamatkan AH Nasution, saat dicari cakrabirawa. Muzni menegaskan akan tetap mempertahankan Ismael. Hal ini dibuktikan, Muzni dan Ismael menjadi teman diskusi dalam jalannya pemerintahan di  Pemkab Solok. 

Ismael kemudian menjalani masa dua tahun menjadi Kepala BKD Solsel di masa Syafrizal J-Nurfirmanwansyah dan empat tahun di zaman Muzni Zakaria-Abdul Rahman. Ismael kemudian menjadi kepala inspektorat Solsel dan kemudian diprediksi menjadi kandidat kuat Sekda. Tapi, di tahun 2014, saat jabatan Sekda kosong dan diisi Plt. Amril Bakri, Ismael jadi kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja. 

Seperti banyak prediksi, Ismael kemudian diangkat jadi Asisten 1 Bidang Pemerintahan. Namun, pada Februari 2015, Ismael mengundurkan diri untuk fokus maju di Pilkada Kota Solok. Tak hanya mundur dari jabatan, Ismael juga mundur sebagai PNS. Waktu itu, mundur saat Bupati dan Wabup sedang dinas luar. Saat itu, bupati dan wabup yang juga adik tingkatnya di FH Unand, mempertanyakan mengapa tergesa-gesa menundurkan diri. Tapi Ismael kokoh dengan pendiriannya, ingin fokus di Pilkada Kota Solok. (PN-001)


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment