Ketua BEM UGM dan Ibunya Diteror, LBH Yogyakarta: Negara Harus Beri Perlindungan!
Solok, PATRONNEWS.co.id - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta bereaksi atas aksi intimidasi berupa teror terhadap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto.Teror ini berupa nada ancaman via pesan pendek hingga dikuntin dua orang berbadan tegap.
Tiyo mendapat teror usai BEM UGM mengirimkan surat terbuka kepada Nations Children's Fund (UNICEF) pada 6 Februari 2026 lalu.
Surat terbuka kepada UNICEF itu merupakan respons BEM UGM atas tragedi seorang siswa di NTT yang meninggal karena bunuh diri.
Terbaru, ibunda Tiyo dikabarkan juga diduga mendapat intimidasi oleh oknum tidak dikenal yang mengirimkan pesan WhatsApp pada 14 Februari 2026.
Adapun inti dari pesan tersebut menyebutkan bahwa Tiyo dituduh hobi menggelapkan dana kampus biar dapat setoran.
Menanggapi hal itu, Direktur LBH Yogyakarta, Julian Duwi Prasetia, menilai apa yang dilakukan Tiyo merupakan bentuk ekspresi dan bentuk kritik terhadap kebijakan negara yang sebenarnya merupakan hal umum
Julian menilai seharusnya negara memberikan perlindungan kepada Tiyo maupun keluarganya, karena itu sudah menjadi bagian dari kewajiban negara.
"Sehingga negara harus aktif mencari siapa yang melakukan intimidasi, serta memberikan perlindungan serta rasa aman kepada keluarga Tiyo," tegas Julian.
Julian juga menanggapi isi teror terhadap Tiyo yang arahnya nyaris menjurus pada upaya pencemaran nama baik.
"Sepanjang tuduhan itu tidak benar, Tiyo berhak mendapatkan perlindungan hukum, termasuk punya hak untuk melapor," ungkapnya.
Dia menegaskan, LBH Yogyakarta akan terus menyuarakan penolakan upaya-upaya pembungkaman yang dilakukan pemerintah.
"Kami akan turut menyuarakan jika yang diserang adalah kebebasan ekspresi dan berpendapat," tegas Julian.
Teror Pesan hingga Dikuntit Orang Tak Dikenal
Sebelumnya diberitakan, Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, mendapat teror melalui aplikasi WhatsApp dari nomor asing.
Pesan tersebut terus-menerus masuk ke gawai pribadinya.
Adapun isi pesannya kurang lebih berbunyi : “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah.”
Pesan itu masuk dari nomor yang sama, namun dikirim dalam waktu yang berbeda-beda.
Pertama kali, teror itu diterima Tiyo pada Senin (9/2/2026).
Ada sekitar enam nomor asing yang terus menghubunginya, namun tidak ditanggapi.
Tidak hanya teror pesan, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan.
Sayangnya, dua sosok bertubuh tegap itu hilang ketika dikejar.
UGM Pasang Badan
Sementara itu, peristiwa teror kepada Ketua BEM UGM tersebut juga sudah diketahui oleh pihak kampus.
Pihak Kampus juga berkomitmen untuk melindungi civitas akademikanya, jika terjadi teror yang sifatnya mengancam keselamatan.
Juru Bicara Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr I Made Andi Arsana, menyatakan pimpinan universitas telah melakukan komunikasi dengan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto, yang mendapatkan teror dari orang tak dikenal.
Kampus kemudian menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan dan perlindungan yang diperlukan.
“Pada prinsipnya, atas nama institusi dan berdasarkan konstitusi, UGM berkewajiban melindungi seluruh civitas akademika UGM dari ancaman atau teror yang berasal dari mana pun,” jelas Made Andi, dalam keterangan resminya, Minggu (15/2/2026).
Dikonfirmasi terpisah, Tiyo Ardianto membenarkan sudah ada komunikasi dengan pihak universitas terkait upaya perlindungan terhadap dirinya.
“Sementara baru koordinasi intens,” jawabnya, soal bentuk perlindungan seperti apa yang diberikan kampus. (*/PN-001)
Sumber: tribunnews.com

Post a Comment