News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pengabdian Masyarakat di Jorong Batu Gajah: Refleksi Akademik atas Dinamika Sosial Pedesaan

Pengabdian Masyarakat di Jorong Batu Gajah: Refleksi Akademik atas Dinamika Sosial Pedesaan

Oleh: Wahyu Firmansyah

Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian integral dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menempatkan mahasiswa tidak hanya sebagai subjek akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial. Melalui kegiatan pengabdian, mahasiswa dihadapkan secara langsung pada realitas sosial yang sering kali tidak sepenuhnya tergambar di ruang-ruang perkuliahan. Pengalaman pengabdian yang saya jalani di Jorong Batu Gajah, Nagari Lubuk Ulang Aling Induk, Kecamatan Sangir Batang Hari, menjadi sarana reflektif untuk memahami dinamika kehidupan masyarakat pedesaan secara lebih utuh.

Jorong Batu Gajah merupakan wilayah yang secara geografis berada cukup jauh dari pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi utama. Kondisi ini berpengaruh terhadap akses masyarakat terhadap berbagai layanan dasar, khususnya di bidang pendidikan, ekonomi, dan administrasi kependudukan. Sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian dan perkebunan, dengan pola kehidupan yang sangat dipengaruhi oleh kondisi alam. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menghilangkan kuatnya nilai-nilai sosial yang tumbuh di tengah masyarakat, seperti solidaritas, kebersamaan, dan gotong royong.

Melalui hal itu Mahardika Mengajar Batch 6 hadir untuk memberikan kontribusi aktif kepada masyarakat, Selama pelaksanaan kegiatan pengabdian yang kami implementasikan dengan beberapa program kerja, mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan, mulai dari kegiatan pendidikan nonformal bagi anak-anak yang kami aplikasikan melalui kegiatan Main Basamo, pendampingan kegiatan keagamaan melalui kegiatan Surau Mangaji, hingga keterlibatan dalam aktivitas sosial jorong seperti berdiskusi santai dengan pemuda serta perangkat jorong/nagari. Interaksi yang intens dengan masyarakat membuka ruang dialog yang konstruktif antara mahasiswa dan warga. Dari dialog tersebut, terlihat bahwa masyarakat Jorong Batu Gajah memiliki keinginan kuat untuk berkembang, namun sering kali dihadapkan pada keterbatasan akses informasi dan pendampingan.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah keterlibatan dalam kegiatan pendidikan anak-anak, dimana kami juga ikut terlibat dalam kegiatan mengajar di SDN 13 Jorong Batu Gajah. Selama kegiatan mengajar kami melihat bahwa Di tengah keterbatasan fasilitas belajar dan minimnya sarana pendukung pendidikan, semangat anak-anak untuk belajar dan berinteraksi menunjukkan potensi sumber daya manusia yang sangat besar. Kondisi ini menjadi refleksi penting bahwa pembangunan pendidikan tidak semata-mata bergantung pada ketersediaan infrastruktur, tetapi juga pada keberadaan lingkungan yang mampu mendorong dan memotivasi proses belajar. Peran volunteer dalam konteks ini bukan sebagai pengganti tenaga pendidik, melainkan sebagai pendamping yang memberikan dorongan moral dan motivasi belajar.

Selain kegiatan mengajar, kami juga hadir dalam merefleksikan beberapa kegiatan lain seperti PHBS ( Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ) yang kami jalankan melalui Pengajaran atau edukasi kepada anak - anak untuk mengajarkan mereka betapa pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, kami juga mengadakan kegiatan MCU ( Medical Chek Up) yang kami jalankan dengan berkolaborasi dengan Puskesmas setempat.

Di sisi lain, kegiatan pengabdian ini juga mengungkap berbagai tantangan struktural yang masih dihadapi masyarakat. Permasalahan ekonomi yang bergantung pada sektor primer, keterbatasan akses terhadap pendidikan lanjutan, serta rendahnya pemahaman terkait administrasi kependudukan menjadi isu yang cukup menonjol. Permasalahan-permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan masyarakat pedesaan memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat itu sendiri.

Pengabdian masyarakat di Jorong Batu Gajah memberikan pemahaman baru bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelaksana program kerja, tetapi juga sebagai pembelajar sosial. Masyarakat tidak dapat diposisikan sebagai objek semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki pengetahuan lokal dan pengalaman hidup yang berharga. Oleh karena itu, pendekatan partisipatif dan dialogis menjadi kunci dalam pelaksanaan pengabdian agar program yang dijalankan relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Sebagai refleksi akhir, kegiatan pengabdian masyarakat hendaknya dimaknai sebagai proses pembelajaran yang berkesinambungan, bukan sekadar kewajiban akademik atau agenda seremonial. Pengalaman di Jorong Batu Gajah menunjukkan bahwa pengabdian yang efektif adalah pengabdian yang mampu membangun hubungan sosial, menumbuhkan empati, serta mendorong kesadaran kolektif akan pentingnya pembangunan berbasis masyarakat. Dengan demikian, pengabdian volunteer diharapkan dapat berkontribusi secara nyata dalam mendukung pembangunan pedesaan yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada penguatan sumber daya manusia. (*)


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment