News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Lebih dari Sekadar Mengajar: Pengabdian Mahardika Mengajar di Jorong Batu Gajah Temukan Semangat Siswa-Siswi SDN 13 Batu Gajah

Lebih dari Sekadar Mengajar: Pengabdian Mahardika Mengajar di Jorong Batu Gajah Temukan Semangat Siswa-Siswi SDN 13 Batu Gajah

Oleh: Diva Beltris

Sepuluh hari di Jorong Batu Gajah, Nagari Lubuk Ulang Aling, menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi kami. Sebagai Volunter Mahardika Mengajar Batch 6 pada 2–11 Januari 2026, kami datang dengan niat mengajar, justru pulang dengan pelajaran berharga tentang semangat, ketahanan, dan harapan yang tumbuh di tengah keterbatasan.

SDN 13 Batu Gajah menjadi potret nyata perjuangan pendidikan di pelosok. Di sekolah ini, kami menemukan anak-anak dengan semangat belajar yang luar biasa, meskipun kondisi cuaca dan geografis sering kali menjadi penghalang. Sekolah ini memiliki delapan orang guru, namun sebagian besar tinggal di luar Jorong Batu Gajah. Ketika hujan turun, akses menuju sekolah menjadi sulit sehingga tidak semua guru dapat hadir mengajar. Kondisi geografis inilah yang menjadi tantangan utama keberlangsungan proses belajar mengajar.

Ketika hujan turun, lapangan sekolah tak lagi bisa dipijak, lapangan dipenuhi genangan air dan agenda lapangan pun otomatis diberhentikan. Selama kami mengabdi di sana, hujan sempat mengguyur kawasan sekitar Jorong Batu Gajah, tidak seluruh guru bisa hadir mengajar di sekolah. Kami sempat khawatir, bagaimana nasib anak-anak yang sudah datang ke sekolah dengan penuh harapan?

Di Tengah keterbatasan tersebut, SDN 13 Batu Gajah dilengkapi dengan sebuah smart TV yang seharusnya bisa memperkaya metode pembelajaran. Namun, jaringan internet di Jorong Batu Gajah sangat sulit didapat. Akses internet hanya mengandalkan “starlink” yang juga digunakan oleh guru, bidan yang ada di puskesmas pembantu, serta Masyarakat Jorong Batu Gajah yang ingin mengakses informasi dari media. Hal ini membuat smart TV tersebut hampir tidak bisa digunakan secara optimal.

Bahkan untuk kegiatan sederhana seperti senam pagi, video yang kami putar dari TV seringkali macet. Anak-anak yang semangat mengikuti gerakan senam harus berhenti di tengah jalan karena buffering yang tidak kunjung selesai. Mereka tak pernah mengeluh dikala video itu macet, justru tetap melanjutkan senam dengan menghitung dan bernyanyi bersama-sama. Ini menjadi pelajaran penting, bahwasannya fasilitas modern tanpa infrastruktur pendukung yang memadai tidak akan memberikan dampak maksimal.

Kekhawatiran kami sirna ketika melihat wajah ceria adik-adik SDN 13 Batu Gajah. Meskipun hujan, disaat kami juga perlu mencari cara agar sampai di sekolah tanpa basah, adik-adik SDN 13 Batu Gajah lebih dulu datang ke penginapan kami, mereka menggunakan seragam rapi dan tas sekolah mereka untuk menjemput kami dengan raut wajahnya yang semangat itu.

Bahkan di luar jam sekolah, semangat mereka tidak pernah padam. Selama kami tinggal di Jorong Batu Gajah, adik-adik sering datang ke tempat penginapan kami. Mereka datang bukan hanya untuk bermain, tetapi juga untuk terus belajar, bertanya, dan berbagi cerita.

Di sinilah kami menyadari makna sebenarnya dari "mengajar". Bukan sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Mengajar adalah tentang hadir, hadir secara fisik dan mental untuk anak-anak yang sangat membutuhkan kita. Mengajar adalah tentang menjadi harapan ketika kondisi tidak ideal. Mengajar adalah tentang membuktikan bahwa hujan, lapangan banjir, jaringan internet yang buruk, dan segala keterbatasan tidak boleh mengalahkan semangat untuk terus belajar. Mengajar juga tentang membangun hubungan, memberikan perhatian, dan menjadi teman yang mendengarkan.

Kami Volunteer Mahardika Mengajar Batch 6 memutuskan untuk tetap mengajar. Dengan segala keterbatasan yang ada, kami berusaha menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan. Kami tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga bermain, bernyanyi, dan berbagi cerita dengan mereka. Kami ingin mereka tahu bahwa ada orang-orang yang peduli, bahwa pendidikan mereka penting, bahwa mereka berharga.

Kondisi yang kami saksikan menunjukkan bahwa memberikan fasilitas saja tidak cukup. Infrastruktur pendukung seperti akses jalan yang baik menuju daerah terpencil, jaringan internet yang stabil, dan kebijakan yang memastikan guru bisa tinggal dekat dengan sekolah adalah fondasi yang harus dipenuhi. Tanpa fondasi tersebut, fasilitas modern hanya akan menjadi pajangan tanpa dampak signifikan.

Pendidikan di pelosok adalah tanggung jawab bersama—pemerintah, masyarakat, penyedia layanan telekomunikasi, dan siapa saja yang peduli dengan masa depan anak-anak Indonesia. Infrastruktur sekolah lebih baik, jaringan internet yang stabil, dan perhatian lebih terhadap kesejahteraan guru adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi.

Bagi kami para Volunter Mahardika Mengajar Batch 6, sepuluh hari di Batu Gajah adalah pengalaman yang akan selalu kami kenang. Kami pulang dengan hati penuh syukur dan tekad untuk terus berkontribusi bagi pendidikan Indonesia.

Kepada adik-adik dan guru SDN 13 Batu Gajah, terima kasih telah mengajarkan kami arti semangat yang sesungguhnya. Sambutan hangat, senyum tulus di tengah keterbatasan, serta kegigihan kalian dalam belajar dan mengajar adalah pelajaran berharga yang akan selalu kami bawa. Teruslah bermimpi, teruslah belajar. Semangat kalian adalah cahaya yang akan terus menerangi masa depan. (*)


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment