News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Emiko-Hardinalis, Ahmad Rius-Hafni Hafiz, Budi Satriadi-Nosa Eka Nanda

Emiko-Hardinalis, Ahmad Rius-Hafni Hafiz, Budi Satriadi-Nosa Eka Nanda

Menghadang Koalisi Raksasa, Mempertanyakan Sikap NasDem, Golkar dan Demokrat

Kontestasi Pilkada Kabupaten Solok 27 November 2024 mulai memanas. Sejumlah Parpol mulai membuka pendaftaran untuk bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Solok 2025-2030. Rencana majunya petahana (incumbent) Bupati Solok Capt. Epyardi Asda, M.Mar ke kontestasi Pilkada Sumbar, membuat eskalasi Pilkada Kabupaten Solok menjadi "hidup". Semua kandidat yang namanya kini mengapung, memiliki peluang setara. Lalu, bagaimana sikap Partai NasDem, Partai Golkar dan Partai Demokrat?

RIJAL ISLAMY, Kabupaten Solok

Pemilihan Umum (Pemilu) 14 Februari 2024 di Kabupaten Solok sudah "selesai"! Meskipun masih ada gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK RI) oleh Ketua DPRD Kabupaten Solok Dodi Hendra di sejumlah TPS di Daerah Pemilihan (Dapil) 3 Kabupaten Solok, secara umum, hasil Pemilu yang mementaskan lima pemilihan, yakni Pilpres, DPR RI, DPD RI, DPRD Sumbar, dan DPRD Kabupaten Solok, sudah diketahui. Partai Amanat Nasional (PAN), di bawah kendali Ketua DPP PAN yang juga Bupati Solok, Capt. Epyardi Asda, M.Mar, tampil gemilang. Partai berlambang matahari itu, sukses memaksimalkan potensinya sebagai pemegang kendali eksekutif (kepala daerah) menjadi alokasi kursi legislatif.

Pada Pemilihan Legislatif (Pileg) DPRD Kabupaten Solok, dengan 35 alokasi kursi dari lima Dapil, PAN sukses tampil sebagai partai pemenang dengan raihan 6 kursi. PAN menang di 4 Dapil dan paling gemilang di Dapil 5 (Lembah Gumanti, Hiliran Gumanti, Pantai Cermin) dengan meraih dua kursi. Sementara, Partai NasDem memenangi Dapil 3 yang meliputi Kecamatan Kubung dan IX Koto Sungai Lasi. Tiga partai mendapatkan alokasi masing-masingg satu kursi dari 5 Dapil, yakni NasDem, Golkar, dan PKS. Berikutnya, Gerindra dan Demokrat mendapatkan 4 kursi dari lima Dapil, minus di Dapil 3. Lalu, Partai Persatuan Pembangunan meraih 3 kursi dari Dapil 3, Dapil 4 dan Dapil 5. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) mendapatkan dua kursi dari Dapil 3 dan Dapil 5. Satu kursi tersisa didapatkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dari Dapil 1 (Gunung Talang, Danau Kembar).

Pada Pileg DPRD Sumbar Dapil 7 Solok Raya (Kabupaten Solok, Kota Solok, Kabupaten Solok Selatan), Kabupaten Solok sukses mengirim dua wakilnya, yakni Lastuti Darni dari PAN dan Agus Syahdeman dari Partai Demokrat. Lastuti Darni merupakan adik kandung dari Bupati Solok, Epyardi Asda.

Pada Pileg DPR RI, Kabupaten Solok sukses mengirimkan anak kandung Epyardi Asda, yakni Athari Gauthi Ardi dari PAN dengan raihan 49 ribuan suara di Kabupaten Solok, atau meningkat sekira 19 ribu suara dibandingkan Pileg DPR RI 2019 lalu. 

Di pemilihan senator (Anggota DPD RI), Kabupaten Solok tak mengirimkan satu wakil pun. Hasil akhirnya, Sumbar mengirimkan Cerint Irraloza Tasya, Emma Yohana, Jelita Donal, dan Muslim Yatim ke kursi DPD RI 2024-2029.

Pada Pilpres, pasangan Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar menjadi peraih suara terbanyak. Diikuti pasangan Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka dan pasangan Ganjar Pranowo - Mahfud MD. 

Dari hasil tiga jenjang Pileg tersebut, tampak jelas, keberadaan Epyardi Asda sebagai Bupati Solok dan Ketua DPP PAN, sukses dikonversi dengan gemilang di Kabupaten Solok. Yakni memenangi Pileg DPRD Kabupaten Solok, mengirimkan adik kandung dan anak kandung Epyardi Asda, yakni Lastuti Darni dan Athari Gauthi Ardi ke kursi DPRD Sumbar dan DPR RI. Tentu saja, hasil itu secara otomatis membuat tokoh-tokoh, politisi dan calon kandidat di Pilkada Kabupaten Solok harus berfikir berulang kali untuk menantangnya di Pilkada Kabupaten Solok 27 November 2024.

Namun ternyata, Kapten (sapaan Epyardi Asda) memiliki rencana lain. Anggota DPR RI tiga periode (2004-2009, 2009-2014, 2014-2019) mendeklarasikan maju ke Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumbar, menantang petahana Mahyeldi Ansharullah - Audy Joinaldy, yang kemungkinan kembali berpasangan. Rencana Epyardi Asda ini, tentu membuat kontestasi Pilkada Kabupaten Solok bergairah. Karena peluang setiap bakal calon terbilang setara. Apalagi, dari kabar yang beredar, Epyardi Asda mengapungkan nama istrinya, Emiko Epyardi, sebagai "penggantinya" di jabatan Bupati Solok 2025-2030.

Emiko Epyardi - Hardinalis

Mengapungnya nama Emiko, ternyata disambut sangat antusias di masyarakat Kabupaten Solok, termasuk di kalangan politisi dan Parpol. Bahkan, sejumlah Parpol disebut-sebut bakal membentuk koalisi besar untuk mendukung Emiko Epyardi. Bahkan, tiga partai besar di Kabupaten Solok, yakni NasDem (5 kursi), Golkar (5 kursi) dan Demokrat (4 kursi) disebut siap bergabung dengan PAN membentuk koalisi raksasa. Artinya, koalisi ini membentuk komposisi 20 kursi dari 35 kursi DPRD Kabupaten Solok atau sebesar 57 persen. Jika Emiko berhasil memenangi Pilkada Kabupaten Solok 27 November 2024, "paduan" eksekutif dan koalisi legislatif ini akan membuat hubungan pemerintah dan DPRD berjalan sangat baik untuk membangun dan mengabdi ke daerah dan masyarakat.

Lalu, siapa yang bakal menjadi pendamping Emiko di kontestasi Pilkada Kabupaten Solok 27 November 2024?

Dari komposisi Parpol pembentuk koalisi raksasa, sejumlah nama sudah muncul dari sejumlah partai. Seperti Partai Golkar yang memberikan "Surat Tugas" kepada Desra Ediwan Anantanur, Mukhlis, Taufik Effendi dan Ferisnovel. Kemudian Partai NasDem yang santer mengedepankan nama Irwan Afriadi, Armen Plani dan M. Hidayat. Sementara Partai Demokrat mengedepankan nama Ismael Koto, Kasmudi dan Agus Syahdeman.

Tentu saja, nama-nama tersebut, memiliki plus minus dan kondisi-kondisi khusus. Seperti terpilih di kontestasi Pileg 14 Februari 2024, hasil perolehan suara di Pileg, hingga pengalaman, kapasitas, dan peluang suara di Pilkada 2024. Termasuk faktor subyektivitas dari para "petinggi" Parpol. Salah satunya, kedekatan Epyardi Asda dengan Ketua Partai Golkar Sumbar, Khairunnas, yang juga Bupati Solok Selatan.

Sebagai politisi sarat pengalaman, Epyardi Asda dikenal sebagai sosok politisi yang detail, sistematis dan memiliki insting politik yang tajam. Tentu, Kapten tidak akan mau istrinya didampingi oleh sosok yang tidak mumpuni jika mendapatkan amanah memimpin Kabupaten Solok kelak. 

Nama yang sangat familiar di masyarakat Kabupaten Solok, akhirnya muncul. Yakni Anggota DPRD Sumbar dari Partai Golkar, Dr. H. Hardinalis Kobal, SE, MM. Politisi sarat pengalaman organisasi dan politik ini adalah Ketua DPRD Kabupaten Solok periode 2014-2019. Jika menggandeng Hardinalis, Emiko maupun Epyardi akan mendapat dua keuntungan, yakni loyalitas dan pengalaman saat mampu menjaga sinergitas dan harmonisasi antara pemerintah dan DPRD. Sinergitas dan harmonisasi ini menjadi masalah terbesar di pemerintahan Epyardi Asda-Jon Firman Pandu periode 2021-2025. Hal yang membuat perjalanan pemerintahan (pemerintah dan DPRD) menjadi penuh konflik.

Lalu, apa kekurangan Emiko dan Hardinalis? Tentu saja, bagi Emiko adalah persoalan gender sebagai perempuan, di samping pengalamannya "hanya" sebagai pendamping hidup bagi Epyardi Asda. Namun, dengan dukungan dan pencerahan dari Parpol koalisi dan peran Hardinalis Kobal yang "pintar" dalam komunikasi, kekurangan itu bisa dieliminasi. Kemudian, apa kekurangan Hardinalis? Tentu saja uang!

Ahmad Rius - Hafni Hafiz

Tidak majunya Ahmad Rius di kontestasi Pileg DPRD Sumbar 14 Februari 2024 lalu, memberikan jalan lapang baginya di kontestasi Pilkada Kabupaten Solok 27 November 2024. Di jagat politik Kabupaten Solok, nama Ahmad Rius begitu populer sebagai sosok politisi yang amat disegani. Hampir dari separuh umurnya berada di dunia politik. Termasuk 2 periode sebagai Anggota DPRD Kabupaten Solok 2004-2009 dan 2009-2014. Kemudian dua periode di DPRD Sumbar 2014-2019 dan 2019-2024. Dari 20 tahun menjadi Anggota Dewan, Ahmad Rius menjalani kemitraan dengan Bupati Solok Gamawan Fauzi, Gusmal, Syamsu Rahim, Gusmal dan Epyardi Asda. Selama itu pula, Ahmad Rius dikenal sebagai sosok yang tidak pernah punya konflik dengan siapapun. Bahkan, dengan Epyardi Asda saat dirinya menjadi Ketua DPD PAN Kabupaten Solok dan Epyardi Asda baru pindah dari PPP ke PAN pada 2018.

Berbekal pengalaman yang mumpuni tersebut, Ahmad Rius berulangkali coba dipasang-pasangkan dengan sejumlah tokoh dan politisi lain. Seperti dengan Wabup Solok Jon Firman Pandu, Budi Satriadi, Nofi Candra, Fauzi Wirman dan sejumlah tokoh-tokoh lainnya. Namun, pasangan yang dinilai paling ideal mendampinginya, mulai dikerucutkan ke Hafni Hafiz. Sosok politisi energik asal Alahan Panjang, wilayah selatan Kabupaten Solok. 

Bagi Ahmad Rius, mungkin tak ada beban untuk maju di Pilkada Kabupaten Solok 2024, tapi tidak bagi Hafni Hafiz! Anak muda asal Selatan Kabupaten Solok tersebut terpilih untuk ketiga kalinya menjadi Anggota DPRD Kabupaten Solok 2024-2029. Sehingga, perlu keberanian luar biasa dan hitung-hitungan cermat. Karena risikonya sangat jelas. Jika maju di Pilkada, Hafni Hafiz harus mundur dari DPRD Kabupaten Solok dan merelakan perjuangannya di masa kampanye 2023-2024 menjadi percuma, jika tak terpilih di Pilkada 27 November 2024.

Budi Satriadi - Nosa Eka Nanda

Nama Budi Satriadi yang akrab disapa Budi Global, menjadi magnet kuat di kontestasi Pilkada Kabupaten Solok 2024. Pria kelahiran Nagari Salimpek, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, pada 17 Mei 1976 ini, menjadi inspirator bagi anak muda Kabupaten Solok. Kisah perjalanan hidupnya yang penuh liku, Budi berhasil membuktikan bahwa siapapun bisa sukses jika punya keinginan kuat. Di saat dirinya berumur 1 tahun, ayahnya meninggal dunia, yang sekaligus menjadikan ibunya yang seorang guru menjadi single parent (orang tua tunggal). 

Setelah tamat dari Akper Depkes Padang pada tahun 1998, Budi Satriadi langsung lulus dan diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Penempatannya adalah sebagai perawat di Ruang Operasi RSUP M Djamil Padang. Budi kemudian menjadi Ahli Mesin Jantung di Ruang Operasi RSUP M Djamil Padang pada tahun 2001.

Di sela menjalani rutinitas sebagai paramedis di rumah sakit terbesar di Sumbar sejak 1998, Budi Satriadi mendirikan perusahaan CV Salsabilla Jaya Utama pada tahun 2000, yang bergerak di bidang Peralatan Kesehatan dan Laboratorium. ⁠Dengan perusahaan ini, Budi Satriadi mengimpor peralatan medis. Berikutnya, pada tahun 2004, Budi menjadi Direktur Utama di PT Global Mineral Sejahtera yang bergerak di bidang tambang bijih besi. Di saat inilah, panggilan "Budi Global" melekat padanya. 

Pada tahun 2005, saat mulai merasakan tantangan baru di tambang biji besi, Budi Satriadi mengambil pilihan tersulit dalam hidupnya, yakni memilih mundur sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Tujuannya agar fokus ke dunia pertambangan. Di tahun yang sama, Budi menjadi ⁠Direktur Utama PT Global Forwarding Company (Perusahaan Agen Kapal) dan Direktur Utama PT Global Stevedoring Company (Perusahaan bongkar muat kapal).

Kemudian, ⁠berlanjut menkadi Direktur PT Budi Satriadi Industries (Smelter Besi) tahun 2008-sekarang), ⁠PT Kuansing Mineral Sejahtera (tambang dan pengolahan/Stone Crusher Batuan) tahun 2010-sekarang, dan ⁠PT Kuansing Makmur Sejahtera (General Kontraktor) 2014-sekarang.

Pada tahun 2012, Budi Satriadi yang makin akrab disapa "Budi Global" mulai masuk ke sejumlah organisasi. Yakni menjadi Ketua Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi) Kabupaten Solok tahun 2012-2015. Kemudian, Pengurus BPD Hipmi Sumatera Barat 2015-2020. Lalu, Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) tahun  2017-sekarang. Kemudian, ⁠Pengurus Masyarakat Alam Gumanti 2023-sekarang. Lalu, Ketua Persatuan Golf Indonesia (PGI) Sumatera Barat (2022-2026).

Dengan latar belakang Budi Satriadi sebagai pengusaha, Nosa Eka Nanda yang tumbuh dan besar di Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dinilai sebagai sosok yang pas mendampingi. Tiga periode di DPRD Kabupaten Solok, tentu bukan masa yang singkat dalam bermitra dan menjalankan pemerintahan bersama-sama di Kabupaten Solok. Sosok politisi santun tersebut, juga dinilai mampu berkomunikasi dengan seluruh pihak di Kabupaten Solok. Sehingga, pasangan Budi Satriadi dan Nosa Eka Nanda, diyakini bakal membuat kejutan luar biasa. Apalagi, jika Pilkada Kabupaten Solok 2024 head to head (dua pasangan). (***)


Peta Terkini Pilkada Kabupaten Solok 2024

1. Ahmad Rius-Hafni Hafiz

Partai Pengusung: Gerindra (4), PPP (3) = 7 kursi


2. Budi Satriadi - Nosa Eka Nanda

Partai Pengusung:

PKS (5), Hanura (2), PDI (1) = 8 kursi.


3. Emiko Epyardi - Hardinalis

Partai Pengusung:

PAN (6), Golkar (5), NasDem (5), Demokrat (4) = 20 kursi.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment