News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Tragis! Ketua DPRD Kabupaten Solok Dodi Hendra Terancam Gagal ke Parlemen

Tragis! Ketua DPRD Kabupaten Solok Dodi Hendra Terancam Gagal ke Parlemen

Tragis! Ketua DPRD Kabupaten Solok Terancam Gagal ke Parlemen

"Rekapitulasi Belum Final, Tapi Harus Ada Evaluasi Terhadap Kepemimpinan"

SOLOK, PATRONNEWS.CO.ID - Ketua DPRD Kabupaten Solok, Dodi Hendra, terancam gagal lolos ke DPRD Kabupaten Solok 2024-2029. Dari rekapitulasi sementara sejumlah Parpol, Legislator dari Partai Gerindra tersebut, berada di posisi ketujuh dari enam alokasi kursi untuk daerah pemilihan 3 (Kecamatan Kubung dan Kecamatan IX Koto Sungai Lasi). Partai Gerindra di Dapil 3, kalah dari NasDem, PAN, PKS, PPP, Golkar dan Hanura.

Hasil rekapitulasi sementara ini, tentu menjadi hasil yang tragis bagi Dodi Hendra. Pasalnya, dengan status sebagai Ketua DPRD dan peraih suara terbanyak kedua se-Kabupaten Solok pada 2019 lalu dengan 2.965 suara dan hanya kalah dari Renaldo Gusmal (4.020) suara, terancam gagalnya Partai Gerindra dan Dodi Hendra di Pileg 2024 Dapil 3 ini, tentu menjadi sorotan utama. 

Lalu, bagaimana Dodi Hendra menanggapi hal ini? 

Secara eksklusif, Dodi Hendra membeberkan pengalaman dan perjuangannya ke patronnews.co.id, pada Kamis dinihari (22/2/2024). Meski mengaku "santai" terhadap hasil rekapitulasi sementara dan proses real count yang masih berjalan di KPU Kabupaten Solok, Dodi Hendra mengingatkan, hasil rekapitulasi sementara ini, harus menjadi ajang evaluasi terhadap kepemimpinan di Kabupaten Solok, terutama terhadap DPC Partai Gerindra Kabupaten Solok. 

"Proses masih berjalan. Mari kita biarkan KPU, Bawaslu, serta jajarannya bekerja profesional. Saya juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tak terpengaruh terhadap opini-opini yang berkembang. Karena hasil final ada di rekapitulasi KPU. Secara pribadi, saya mengucapkan terima kasih kepada Tim Pemenangan dan Relawan yang telah bekerja maksimal, sehingga masyarakat masih tetap percaya kepada Dodi Hendra. Buktinya, hingga rekapitulasi hari tadi, suara saya sudah sekira 1.600 suara. Rekapitulasi sementara yang beredar saat ini, adalah klaim partai-partai dan upaya penggiringan opini. Setiap partai pasti menginginkan partai menjadi pemenang. Insyaallah, Dodi Hendra juga punya rekapitulasi dan hitungan sendiri. Hasil akhirnya, tentu nanti di KPU sebagai pihak penyelenggara Pemilu," ungkapnya.

Terkait dengan gagalnya Partai Gerindra sebagai menjadi pemenang di Kabupaten Solok 2024, Dodi Hendra mengaku hal ini harus menjadi evaluasi total di Kabupaten Solok. Selaku kader yang taat dan patuh, Dodi Hendra mengaku sudah menunjukkan upaya maksimal. Kini, menurutnya DPD Partai Gerindra Sumbar dan DPP Partai Gerindra, tentu akan melakukan langkah-langkah evaluasi terhadap kegagalan DPC Partai Gerindra Kabupaten Solok di Pileg 2024 ini.

"Pada Pileg 2019, Partai Gerindra menjadi pemenang bersama PAN dan Partai Demokrat, kini di rekapitulasi sementara Pileg 2024 ini, PAN menang bersama Partai NasDem dan Partai Golkar. Tentu hal ini harus menjadi evaluasi, terutama terhadap kepemimpinan di Kabupaten Solok," ungkapnya.

Dodi juga menyoroti pernyataan Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Solok yang juga Wakil Bupati Solok, Jon Firman Pandu, yang menyatakan bahwa kegagalan Partai Gerindra adalah karena tiga hal. Yakni adanya AMIN Effect di Pilpres, konflik dengan Bupati Solok, serta dugaan asusila yang melibatkan Dodi Hendra, sesaat sebelum Pemilu 2024. Menurut Dodi Hendra, kalah saingnya Partai Gerindra di Kabupaten adalah karena manajerial, kepemimpinan dan komposisi Caleg yang tampil di kontestasi Pileg.

"Jangan pernah mencari alasan-alasan terhadap apa yang sudah terjadi. Apalagi mencari kambing hitam. Jika disebut karena AMIN Effect, justru PAN, Golkar Gerindra dan Demokrat adalah pengusung Prabowo-Gibran, tapi hasil tak berbanding lurus dengan hasil Pilpres. Dan saya, tak sekalipun mendengar Bupati Solok sebagai kader PAN, menyuarakan Prabowo-Gibran di Kabupaten Solok. Bahkan, Anggota DPR RI Athari Gauthi Ardi adalah Wakil Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo-Gibran di tingkat pusat, tapi tak berkampanye Pilpres di Kabupaten Solok. Lalu, konflik dengan Bupati Solok, saya rasa tak masuk akal menjadi alasan, karena setiap partai tentu berjuang untuk kemenangan partainya. Justru, usaha kita (DPC Gerindra Kabupaten Solok) yang harusnya dipertanyakan. Kemudian, terkait dugaan kasus asusila yang menghantam saya beberapa saat sebelum Pileg, ternyata sama sekali tak berpengaruh. Buktinya, suara saya tetap banyak dan signifikan. Jadi, jangan banyak alasan, apalagi menyalahkan orang lain," ungkapnya. 

Wabup Jon Firman Pandu Ucapkan Selamat ke PAN

Sebelumnya, Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Solok dan Wakil Bupati Solok, Jon Firman Pandu mengucapkan selamat kepada Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Golongan Karya (Golkar), yang tampil sebagai pemenang di Pileg 2024. Meskipun hasil Pileg DPRD Kabupaten Solok 2024 belum final, Jon Firman Pandu, mengatakan dari hasil rekapitulasi sementara di internal, DPC Gerindra Kabupaten Solok baru "mengamankan" 4 kursi di DPRD Kabupaten Solok periode 2024-2029.

"Kita ucapkan selamat kepada PAN, NasDem dan Partai Golkar sebagai tiga partai pemenang Pileg 2024. Meskipun hasilnya belum final, namun dari hasil rekapitulasi internal kita, hasilnya diprediksi tidak akan banyak berubah. Kita sudah berusaha sekuat daya dan upaya, namun hasilnya harus kita terima dengan lapang dada. Tidak ada yang perlu disalahkan atau mencari alasan-alasan. Inilah hasil dari pilihan masyarakat Kabupaten Solok. Kita juga mengapresiasi masyarakat, KPU, Bawaslu, kepolisian, TNI dan stake holder lain yang telah membuat Pemilu berjalan dengan aman dan sukses," ujarnya.

Jon Firman Pandu menyebut, hasil Pileg DPRD Kabupaten Solok 2024 ini, akan menjadi ajang evaluasi ke depan. Yakni bagaimana kerja-kerja politik yang harus ditingkatkan lagi ke depan. Meski begitu, Jon Firman Pandu melihat ada setidaknya 3 faktor utama yang membuat raihan suara Partai Gerindra anjlok di Kabupaten Solok. Pertama, adanya efek dari Pilpres, yakni AMIN Effect (Anies-Muhaimin) di seluruh wilayah Sumbar. Kedua, konflik Partai Gerindra dengan Bupati Solok Capt. Epyardi Asda, M.Mar. Ketiga, adanya masalah dugaan asusila Ketua DPRD Kabupaten Solok dari Partai Gerindra, Dodi Hendra. 

"Tiga faktor itu, memukul kita dengan sangat telak. AMIN Effect di 2024, datang menggantikan Prabowo Effect di 2019. Kemudian, konflik Partai Gerindra bersama sejumlah partai lain dengan Bupati (Epyardi Asda) sejak 2021, menguras energi kita. Lalu, dugaan asusila yang melibatkan Ketua DPRD (Dodi Hendra), datang di waktu yang sangat dekat dengan Pemilu. Meski itu sejatinya adalah masalah pribadi, namun status pejabat publik dari Partai Gerindra, sangat merugikan kita. Apalagi, kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan counter. Ditambah lagi, hal ini di-blow up sedemikian rupa, dan masyarakat kita sangat sensitif dengan asusila ini. Meski belum jelas benar atau tidaknya, tapi label atau cap buruk telah terlanjur dilekatkan," ujarnya.

Dari hasil rekapitulasi internal, Partai Gerindra baru mengamankan 4 kursi di DPRD Kabupaten Solok dan menempati peringkat kelima, setelan PAN, NasDem, Golkar dan PKS. Alokasi 4 kursi tersebut terdiri dari Iskan Nofis dari Dapil 1 (Gunung Talang, Danau Kembar), Boy Falma dari Dapil 2 (X Koto Singkarak, X Koto Diatas, Junjung Sirih), Madra Indriawan dari Dapil 4 (Bukit Sundi, Lembang Jaya, Payung Sekaki, Tigo Lurah), dan Hafni Hafiz dari Dapil 5 (Lembah Gumanti, Hiliran Gimanti, Pantai Cermin). Sementara, untuk Dapil 3 (Kubung, IX Koto Sungai Lasi), Partai Gerindra terancam gagal mendapatkan kursi, karena sedang berjuang bersama Partai Demokrat untuk mendapatkan kursi terakhir atau kursi keenam yang saat ini ditempati oleh Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Di Dapil 3 ini, 5 partai sudah mengamankan kursi adalah NasDem, PAN, Golkar, PKS, dan PPP.

"Ini akan menjadi bahan evaluasi dan ajang instrospeksi bagi kita ke depannya. Kita telah berusaha semaksimal mungkin dengan segala daya dan upaya. Tapi partai lain tentu juga berupaya semaksimal mungkin pula. Sekali lagi, mari kita hasil ini dengan ikhlas, lapang dada dan sikap yang dewasa," ungkapnya. (PN-001)

HASIL TABULASI DPRD KABUPATEN SOLOK 2024-2029

Dapil 1 (Gunung Talang, Danau Kembar)

Data Masuk: 97,98 %

1. Iwarnis (PAN)

2. Dasrianto (PKS)

3. Toni Devisa (NasDem)

4. Yetty Aswaty (Golkar)

5. Iskan Nofis (Gerindra)

6. Jamaris (PDIP)

7. Dedi Fajar Ramli (Demokrat)


Dapil 2 (X Koto Singkarak, X Koto Diateh, Junjung Sirih)

Data Masuk: 100 %

1. Denny Eka Surya (PAN)

2. Trio Karno Vivo (Golkar)

3. Boy Falma (Gerindra)

4. Armen Plani (NasDem)

5. Ismael Koto (Demokrat)

6. Nazar Bakri (PKS)


Dapil 3 (Kubung, IX Koto Sungai Lasi)

Data Masuk: 95,18 %

1. M. Hidayat (NasDem)

2. Aurizal (PAN)

3. Ari Rafika WD (PKS)

4. Endang Fitri Rahayu Karlina (PPP)

5. Mukhlis Dt Gampo Malangik (Golkar)

6. Sutan Muhammad Bahri (Hanura)


Dapil 4 (Bukit Sundi, Lembang Jaya, Payung Sekaki, Tigo Lurah)

Data Masuk: 87,73 %

1. Ivoni Munir (PAN)

2. Tistuti Kamal (NasDem)

3. Madra Indriawan (Gerindra)

4. Olzaheri (Golkar)

5. Mulyadi (Demokrat)

6. Abasril (PKS)

7. Firmansyah (Hanura)


Dapil 5 (Lembah Gumanti, Hiliran Gumanti, Pantai Cermin)

Data Masuk: 93,71 %

1. Misardi (PAN)

2. Nasrizal (Golkar)

3. Betra Desko (NasDem)

4. Hafni Hafiz (Gerindra)

5. Basrizal (PKS)

6. Ronalfi (PPP)

7. Nopi Amanda (PAN)

8. Efdizal (Demokrat)

9. Syukri Firman (Hanura)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment