News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Virus Corona Lebih Menakutkan dari Hantu Suanggi

Virus Corona Lebih Menakutkan dari Hantu Suanggi

Safei Ricardo Desima

Pulang dari sekolah saya bergegas ke kios sembako. Saya membeli beras, minyak goreng dan beberapa kebutuhan pokok lainnya. Wah, sudah diduga, semua harga barang sudah naik. Saya tancap gas pulang ke rumah, sengaja tidak singgah ke apotik untuk membeli masker, sudah pasti stok habis. Ini benar-benar masa-masa "gila", salah satu periode tersulit di daerah pengabdian, Manokwari. Meski sebenarnya tidak lebih menakutkan dari "chaos" berdarah di sini yang bisa terjadi setiap saat. Nyaris, baru beberapa bulan lalu. Saya menyaksikan semua kengerian ini. Termasuk petaka Covid-19.

Pertengahan Maret wabah Virus Corona sudah sampai di Papua. Hal ini membuat  semua orang panik dan kuatir. Virus ini menakutkan seperti hantu Suanggi. Suanggi adalah hantu ilmu hitam yang paling ditakuti. Hantu ini dipercaya luas oleh sekelompok masyarakat secara turun-temurun. Hantu Suanggi juga seperti pembunuh bayaran, ia bisa dibayar untuk membunuh seseorang. Suanggi membunuh tanpa meninggalkan jejak, sehingga korbannya mati seperti biasa. Masyarakat baru tahu seseorang dibunuh Suanggi setelah mayatnya didiamkan beberapa hari.

Saking takutnya, masyarakat kemana-mana membawa parang keluar rumah. Konon, Suanggi takut dengan orang yang sedang membawa parang. Sehingga,
masyarakat kalau ke kebun harus selalu ada parang di tangan, atau diselipkan di punggung. Begitulah ngerinya legenda yang dipercaya masyarakat di sini.

Musibah Virus Corona (Covid-19) dan hiruk-pikuknya juga sampai ke Tanah Papua. Negeri yang dianggap orang jauh, hutan belantara dengan segala keganasannya. Meski  sebenarnya ada juga beberapa perkotaan. Namun, teknologi membuka pintu ke sini.

Termasuk kesempatan wabah Corona berjangkit di Papua. Saya tidak bisa membayangkan kalau virus ini datang dari luar Papua lalu menjangkit warga di pegunungan dan lembah. Daerah pegunungan di Papua tentu adalah daerah yang sulit, terutama akses kesehatannya.

Puskemas saja sangat sulit ditemukan di daerah pedalaman di Papua, apalagi rumah sakit. Belum lagi akses yang sulit untuk membawa masyarakat yang terjangkit ke rumah sakit. Bila itu terjadi, hal ini bisa sangat menakutkan. Masyarakat mungkin hanya bisa pasrah menunggu ajal. Apalagi rendahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya social distancing dan kebersihan. Apalagi masyarakat Papua identik dengan berkumpul-kumpul.



Mereka suka duduk di para-para (sejenis gazebo di bawah kayu besar) sekedar mengisi  waktu sore. Melihat bahaya wabah ini, saya membandingkan dengan wabah malaria. Sumber Tempo, Jumat 24 April 2015, setidaknya menyebutkan bahwa rasio malaria di Papua mencapai angka 43 per 100. Artinya, 43 dari 100 orang terkena malaria. Resiko kematian karena malaria di Papua juga tidak bisa dipandang enteng. Malaria juga menjadi salah satu penyakit mematikan di Provinsi Papua Barat. Sekitar 15 persen penyebab kematian di Papua Barat disebabkan oleh malaria. Saya sering sekali melihat bayi dimakamkan di tempat  pemakaman belakang sekolah. Umumnya keluarga mengaku bayinya meninggal karena malaria.

Menurut Unicef, angka kematian bayi di Papua tiga kali lipat dibanding Jakarta. Apa yang terjadi pada kasus malaria adalah gambaran bahwa daerah ini sangat rentan bila wabah ini menyebar di Papua. ketersedian Faskes, dan tenaga medis tidak memadai. Itu terlihat pada kasus-kasus yang pernah terjadi di Tanah Papua. Contohnya kasus malaria, AIDS, dan gizi buruk.

Kondisi lingkungan dan terbatasnya akses kesehatan menjadi salah satu penyebabnya. Papua sangat berbeda dengan daerah lain yang mungkin memiliki tingkat responsif lebih baik, karena beberapa keunggulan dan keuntungan. Malaria mungkin seperti "mainan" bagi orang yang tinggal di Papua. Kata mereka, "yang penting perut jangan kosong".

Tapi, Virus Corona bukanlah wabah seperti malaria. Virus Corona dianggap hasil rekayasa manusia, walau juga disanggah oleh otoritas di Wuhan, China tempat virus ini mulai muncul. Di tengah kesimpangsiuran itu, nyatanya telah melumpuhkan Italia. Sebanyak 190 negara terjangkit, dan 37 ribu lebih sudah menelan korban nyawa. Angka-angka tersebut terus naik. Wilayah penyebaran tiap hari makin luas.

Orang-orang dari luar datang ke gunung dan lembah di Papua untuk berbagai urusan. Apakah itu urusan dinas, tugas luar kota, ekspedisi, penelitian atau berwisata. Apalagi bulan Oktober akan diadakan PON di Papua. PON akan melibatkan banyak orang. Orang-orang lintas provinsi datang. Orang-orang datang ke gunung dan lembah melewati perjalanan panjang dan melelahkan. Tidak ada bus, atau kereta. Pilihan cuma naik mobil "ranger" atau naik pesawat perintis. Lalu kehadiran mereka ternyata membawa penyakit. Dan, mereka kembali ke kota meninggalkan wabah pada penduduk gunung atau lembah.

Sementara kita tahu, bahwa akses di tempat tersebut sangat sulit, apalagi ketersediaan tenaga medis. Kekuatiran masyarakat Papua terasa sangat wajar. Hari Selasa, 31 Maret 2020, sekelompok masyarakat kawasan Bandara Rendani, Manokwari mengblokade jalan. Hal tersebut terjadi karena penumpang pesawat yang baru saja terbang dari luar kota diduga ada yang terjangkit, hal tersebut terlihat setelah dilakukan cek suhu badan. Masyarakat meminta penumpang tersebut dikembalikan ke daerah asal. Walau ketiga penumpang tersebut belum terbukti terjangkit saat itu.

Namun, reaksi masyarakat sudah memperlihatkan kekuatiran dan mendesak dilakukan karantina wilayah di Manokwari. Walau karantina itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Manokwari awalnya tidak begitu resah saat Jakarta sudah mulai dihebohkan dengan Corona. Beberapa hari Manokwari dan Papua masih dianggap aman. Namun, setelah ada warga ODP (Orang Dalam Pantauan) dan orang yang positif terjangkit Corona, orang-orang mulai ketakutan dan panik. Setidaknya terdapat 2 kasus (hingga 30 Maret 2020) di Papua Barat (Sorong). Satu meninggal, satu lagi dirawat intensif. Saking paniknya, bahkan ada warga sekitar TPU di Sorong menolak jenazah yang diduga meninggal karena terjangkit Corona. Padahal masih berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan), belum sempat diambil sampelnya.

Sekolah pun segera diliburkan di Manokwari, kecuali siswa yang sedang mengikuti Ujian Sekolah (US), dan PNS dilarang berkantor. Hingga 28 Maret 2020, Bupati Manokwari, Demas Paulus Mandacan mengeluarkan instruksi tertulis larangan bepergian keluar dan masuk ke daerahnya. Kegiatan barang dan jasa dibatasi. Bupati sangat menyadari kondisi daerahnya. Maka, terhitung 30 Maret 2020 siapapun dilarang melakukan perjalanan keluar dan masuk ke Manokwari dengan semua jenis alat transportasi.

Sejak pertengahan Maret 2020, merupakan masa-masa sulit. Setidaknya begitu saya rasakan. Tidak ada lagi mengajar ke sekolah, padahal belum masa libur sekolah. Pelaksanaan Ujian Nasional juga sudah resmi ditiadakan. Di rumah biasanya sore hari anak-anak datang belajar membaca, sekarang tidak ada lagi. Bersama teman-teman komunitas literasi biasanya juga selalu ada kesibukan.

Sekarang semua terhenti. Ini menakutkan. Ini juga pertama kali Shalat Jum’at dilarang. Aktivitas di gereja juga ditiadakan. Saya berhari-hari di rumah, mengikuti ajakan "di rumah aja". Sekali-kali menelpon keluarga, memastikan saya masih hidup dan mereka juga masih ada.

* Penulis adalah guru di Manokwari dan anggota Pustaka Bergerak Indonesia tahun 2016.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment