Secuil Sejarah Tour de Singkarak, Bersikeras di Kedai Kopi Kawasan Pondok - PATRONNEWS

Tuesday, September 17, 2019

Secuil Sejarah Tour de Singkarak, Bersikeras di Kedai Kopi Kawasan Pondok

Secuil Sejarah Tour de Singkarak, Bersikeras di Kedai Kopi Kawasan Pondok

Secuil Cerita di Kawasan Pondok Terkait Tour de Singkarak Tahun 2008
Gamawan Bersikeras TdS, Dibanding TdM, TdB, dan HRCW

Mengapa iven balap sepeda di Sumbar bernama Tour de Singkarak? Mengapa tidak nama lain? Siapapun boleh saja mengklaim sebagai penggagas iven balap sepeda terbesar di Sumbar tersebut. Tapi, mengapa akhirnya bernama TdS? Ini secuil cerita di Kawasan Pondok, Kota Padang, pada 2008. Setahun jelang TdS perdana.

Laporan RIJAL ISLAMY, Solok

Kawasan Pondok, Kota Padang, sejak lama dikenal surga dan legenda kuliner di Sumbar. Rasa dan suasana yang tersaji, menjadikan kawasan yang masyarakatnya sangat heterogen tersebut menjadi primadona. Tidak hanya untuk memanjakan selera, tapi juga untuk pembuka cerita dan membahas sebuah rencana. Tour de Singkarak (TdS) juga pernah dibahas disini.



Medio 2008, Gubernur Sumbar kala itu, Gamawan Fauzi, sedang menikmati secangkir kopi bersama Kepala Dinas Pariwisata Sumbar saat itu, Prof James Hellyward. Obrolan antara gubernur dan Kadis tersebut, berlangsung santai. Seperti saat menjadi Bupati Solok dua periode (1995-2000 dan 2000-2005), Gamawan memang seringkali melakukan pertemuan di luar kantor dengan stafnya, bahkan dengan pejabat eselon. Bahkan saat di Kabupaten Solok, Gamawan hampir rutin bermain sepakbola dengan masyarakat. Usai bermain bola atau di jeda pertandingan, Gamawan berdiskusi dengan masyarakat.

Pertemuan di Kawasan Pondok saat itu, juga dihadiri beberapa orang lainnya. Salah satunya adalah Ekky Rezal. Direktur Utama Triple E Event Company dan Founder PT Tiga Karya Bali, yang merupakan perusahaan event organizer tersebut juga hadir saat itu. Perantau Minang asal Selayo, Kabupaten Solok, yang menetap di Provinsi Bali sejak 1988 tersebut, awalnya menawarkan diri sebagai pelaksana Harau Rock Climbing & Adventure Sport World Championship (HRCW) di Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Saat itu, Sumbar memang berencana menggelar iven sport tourism kelas dunia. Pilihannya telah mengerucut antara panjat tebing atau balap sepeda.

Gamawan Fauzi
Gubernur Sumbar 2005-2010

Balap sepeda maupun panjat tebing alami, merupakan hal yang baru bagi masyarakat Sumbar saat itu. Balap sepeda yang kelak bernama TdS, digagas dan ditawarkan oleh Sapta Nirwandar ke Pemprov Sumbar. Sapta saat itu adalah Wakil Menteri (Wamen) Pariwisata di Kabinet Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Menteri Pariwasata saat itu adalah Jero Wacik, asal Bali. Sementara, HRCW juga iven yang tak kalah mentereng. Pasalnya, cadas (tebing) Harau secara teknis adalah cadas terindah kedua di dunia setelah cadas yang ada di Hawaii.

Gamawan maupun James Hellyward, menurut Ekky Rezal sepertinya saat itu lebih intens membahas balap sepeda. Sementara HRCW, seperti kenyataan saat ini, tak kunjung terlaksana. Sejumlah faktor disebut-sebut lebih menguatkan balap sepeda digelar, termasuk kabarnya ada aroma politis dan "keseganan" ke pimpinan. Sapta Nirwandar adalah pimpinan James Hellyward di Kemeterian Pariwisata. Gamawan, entah berkebetulan atau tidak, setahun berselang menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) di Kabinet SBY-Boediono.

Prof James Hellyward
Kepala Dinas Pariwisata Sumbar 2008

Pembicaraan mengenai nama iven balap sepeda itu kemudian menjadi cukup alot. Sejumlah nama mengemuka. Seperti Tour de Minangkabau (TdM), Tour de Bukittinggi (TdB), Tour de Singkarak (TdS), dan sejumlah nama lainnya. Pilihan "Tour" yang merujuk ke Tour de France (Prancis), lebih disukai dibanding dua iven balap kelas dunia lainnya, La Vuelta Espana (Spanyol) atau Giro de Italia. Setelah "Tour" disepakati, bahasan selanjutnya adalah apakah akan memakai TdM, TdB, TdS, atau lainnya. Ekky Rezal menyebutkan saat itu, Gamawan bersikeras mempertahankan nama Tour de Singkarak (TdS).

"Saat itu, sebagai warga Minang Solok perantauan, saya begitu bangga dengan beliau (Gamawan), yang mempertahankan nama Singkarak, dan akhirnya terlaksana hingga sekarang. Argumen beliau, Danau Singkarak adalah danau terbesar di Sumbar dan diharapkan menjadi destinasi wisata utama di Sumbar. Seiring dengan perkembangan pembangunan ekonomi dan pariwisata saat itu," ujar Ekky.

Ekky Rezal
Perantau Minang Solok di Bali

Singkat cerita, Tour de Singkarak edisi perdana digelar pada 29 April hingga 3 Mei 2009. TdS 2009 diikuti 25 tim dari 15 negara, dengan 125 pebalap. Menempuh jarak 459 kilometer dalam empat etape, yang diawali etape criterium atau Team Time Trial sejauh 4,4 kilometer di Pantai Padang. Etape criterium (TTT) yang merupakan Etape 1 dimenangi Malcolm Rudolph dari Tim Budget Forklift (Australia).

Etape 2 dari Kota Padang ke Bukittinggi sejauh 92,3 kilometer dimenangi Rafaa Chtioui dari Team Doha (Qatar). Etape 3A dari Bukittinggi ke Sawahlunto sejauh 90,2 kilometer dimenangi pebalap Indonesia Dadi Suryadi. Etape 3B dari Sawahlunto ke Dermaga Singkarak dimenangi pebalap Jepang Taiji Nishitani dari Tim Aisan Racing. Etape 4 yang merupakan etape pamungkas yang menempuh rute Dermaga Singkarak menuju Danau Kembar dan finish di Dermaga Singkarak sejauh 188 kilometer dimenangi pebalap Iran dari Tim Tabriz Petrochemical (Iran) Hossein Nateghi.



Setelah menempuh 459 kilometer, pebalap Iran dari Tim Tabriz Petrochemical, Ghader Mizbhani Iranagh, tampil sebagai juara umum. Amir Zargari dan Tim Azad University (Iran) jadi juara kedua dan Cameron Jennings dari Tim Budget Forklift jadi juara ketiga. Pebalap nasional senior Tonton Susanto menjadi juara umum kategori pebalap Indonesia.

Setelah juara edisi perdana di edisi 2010, Ghader Mizbani Iranagh kembali juara. Pada edisi 2011 Amir Zargari, edisi 2012 Oscar Pujol Munoz (Spanyol), 2013 Ghader Mizbani Iranagh, 2014 Amir Zargari, 2015 Arvin Moazemi Goudarzi (Iran), 2016 Amir Kolahdouzhagh (Iran), 2017 Khalil Khorshid (Iran), dan pada edisi 2018 Jesse Ewart (Australia) menjadi yang tercepat.

Riak muncul pada helatan Tour de Singkarak 2019. Penyebabnya, dari rute sementara yang dikeluarkan Union Cycliste Internationale (UCI) pada Agustus 2019, tidak ada satupun rute yang melintasi Kawasan Singkarak. Padahal, dari rencana 9 rute yang akan ditempuh, 2 rute merupakan rute baru yang berada di Provinsi Jambi. Etape 6 yang melintasi Kabupaten Solok, tidak melewati Kawasan Singkarak. Tapi dari Kawasan Arosuka menuju Solok Selatan. Sementara rute yang melewati Tanah Datar di dekat Danau Singkarak, yakni Etape 1 dari Pariaman ke Istano Pagaruyung, juga tidak melewati tepian Danau Singkarak.

Ony Yulfian
Kepala Dinas Pariwisata Sumbar

Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Oni Yulfian, Etape VI yang awalnya direncanakan start di Dermaga Singkarak, diminta Pemkab Solok untuk dialihkan start ke Arosuka, dengan mengitari Danau Singkarak sebelum ke Solok Selatan. Namun, penambahan jarak tempuh tersebut tidak bisa diterima karena hampir mencapai 250 kilometer. Jarak terlalu jauh tersebut disebut rentan membuat pebalap cedera atau finish di luar waktu yang ditentukan. Akibatnya, pebalap tidak bisa ikut lagi di etape berikutnya.

Terancamnya Kawasan Singkarak tidak dilalui di TdS 2019 ini, memantik reaksi dari berbagai pihak di Kabupaten Solok. Pemkab Solok tidak terima dianggap sebagai "biang keladi" tidak masuknya Kawasan Singkarak, karena meminta pemindahan titik start, yang membuah jarak tempuh bertambah. Sementara, nama Singkarak yang merupakan adopsi nama TdS, seakan harus dan wajib dilintasi. Apalagi jika melihat sejarah, bahwa 10 gelaran TdS dari 2009-2018, selalu melintasi tepian Danau Singkarak.

"Tetaplah TdS 'wajib' melintas di Danau Singkarak. Karena kebanggaan dan primadona warga Solok ada di Danau tersebut. UCI bisa jadi sebagai penentu tentang teknis. Tapi kekuatan sejarah TdS bisa hadir di Sumbar tidak kalah pentingnya untuk dipertahankan," ujar Ekky Rezal.

Kini, dilewati atau tidaknya Kawasan Singkarak, berada di survey ketiga pada 7 Oktober 2019. Akankah ada solusi tetap lintasi Singkarak? Atau TdS kali ke-11 ini akan menjadi sejarah, yakni Tour de Singkarak tidak melewati Singkarak. (***)



Stage TdS 2019:

Stage 1
Start Pantai Gandoriah, Kota Pariaman - Finish di Istana Basa Pagaruyung, Batusangkar. Panjang lintasan 107.3 km.



Stage 2
Start Kantor Bupati Pasaman - Finish di Jam Gadang, Bukittinggi. Panjang lintasan 112.2 km.



Stage 3
Start Lembah Harau, Limapuluh Kota - Finish di Padang Panjang. Panjang lintasan 125.6 km.



Stage 4
Start Kantor Bupati Dharmasraya - Finish di Lapangan Segitiga Sawahlunto. Panjang lintasan 205.3 km.



Stage 5
Start Kantor Dispar Payakumbuh - Finish di Ambun Pagi, Agam. Panjang lintasan 206.5 km.



Stage 6
Start Taman Hutan Wisata Arosuka, Kabupaten Solok - Finish di Ruang Terbuka Hijau Muaro Labuah, Solok Selatan. Panjang lintasan 173.2 km.



Stage 7
Start Air Terjun Telun Berasap - Finish di Dermaga Kerinci, Provinsi Jambi. Panjang lintasan 82.9 km.



Stage 8
Start Lapangan Merdeka Sungai Penuh - Finish di Alun-Alun Painan, Pesisir Selatan. Panjang lintasan 200.4 km.



Stage 9
Start Pantai Carocok, Pessel - Finish Pantai Cimpago, Kota Padang. Panjang lintasan 107.7 km.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 PATRONNEWS | All Right Reserved