Irman Yefri Adang Maju di Pilkada Kota Solok 2020? - PATRONNEWS

Thursday, August 1, 2019

Irman Yefri Adang Maju di Pilkada Kota Solok 2020?

Irman Yefri Adang Maju di Pilkada Kota Solok 2020?

Mengenal Irman Yefri Adang, Calon Walikota Solok 2020
* Sosok Tanpa Musuh Sejak Lahir

"Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi, kalau ada umur panjang, boleh kita berjumpa kembali di ruangan ini"


Wakil Ketua DPRD Kota Solok, Irman Yefri Adang, berpantun. Sesuatu yang tak biasa dilakukan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Solok tersebut. Pantun biasa, umum, dan sudah begitu sering terdengar. Tapi, pantun tersebut justru menjadi tidak biasa, khusus dan asing terdengar saat diucapkan Adang. Apalagi, Adang mengucapkannya saat menutup Pandangan Umum Fraksi PAN DPRD Kota Solok, saat menjadi juru bicara Fraksi PAN dalam sidang paripurna DPRD Kota Solok, Selasa (30/7).

Pantun Adang, menjadi buah bibir usai sidang. Bahkan hingga berhari-hari setelahnya. Beragam spekulasi dan isu, mengiringi pantun yang telah biasa didengar sejak SD, bahkan TK tersebut. Sebagai keluarga besar bangsa Indonesia, khususnya rumpun Melayu, pantun merupakan sarana penyampaian perasaan, secara elegan santun, dan sarat makna. Apa sebenarnya makna pantun Adang dan siapa Irman Yefri Adang?

Ditemui usai sidang DPRD Kota Solok, Rabu (31/7), Irman Yefri Adang, menyatakan dirinya ingin menyampaikan dua hal dalam pidato berujung pantun tersebut. Pertama, salam perpisahan untuk Anggota DPRD Kota Solok masa bakti 2014-2019. Kedua, Adang menegaskan niatnya akan maju di kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Solok 2020 mendatang. Dua pernyataan itu, juga menegaskan posisi Adang di Kota Solok. Sukses menjalani dua periode di DPRD Kota Solok (2009-2014 dan 2014-2019), dan statusnya yang tanpa beban di kontestasi Pilkada Kota Solok 2020.

Berbeda dengan calon-calon Walikota Solok lainnya, Adang tidak memiliki beban soal aturan cuti atau tidaknya dewan atau ASN saat maju di Pilkada. Sebab, dari 20 Anggota DPRD Kota Solok periode 2014-2019, Adang menjadi satu-satunya petahana yang tidak maju di Pileg 17 April 2019 lalu. Sebanyak 17 incumbent kembali maju di kontestasi Pileg DPRD Kota Solok. Dua petahana lainnya, Daswippetra Dt Manjinjing Alam (PPP) dan Ilzan Sumarta (PKS) maju di Pileg DPRD Sumbar.

Hasil Pileg 17 April 2019, memberi berkah, sekaligus beban bagi Caleg Terpilih, dan Caleg yang tidak terpilih di kontestasi Pilkada Kota Solok 2020. Yang terpilih, akan berfikir dua kali untuk maju jika aturan harus mundur dari jabatan tetap berlaku. Yang tidak terpilih, akan dihadapkan pada stigma masyarakat; "Di Pileg saja gagal, bagaimana di Pilkada".

Sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh politik di Kota Solok, meraih hasil berbeda di kontestasi Pileg lalu. Irzal Ilyas, Yutris Can, Ramadhani Kirana Putra, Nasril In, Daswippetra, Rusdi Saleh, Rusnaldi, Yoserizal, Amrinof Dias, Deni Nofri, Bayu Kharisma, dan Hendra Saputra, meraih hasil maksimal. Mereka terpilih!

Sementara figur-figur lain seperti Jon Hendra, Ilzan Sumarta, Andri Marant, Herdiyulis, Dafrizal Buchari, Alfauzi Bote, hingga Agusram Salim, harus menerima kenyataan di luar ekspektasi. Mereka tidak terpilih!

Jika aturan harus mundur dari jabatan bagi yang terpilih, dan stigma bagi yang tidak terpilih tetap "berlaku", posisi Adang terbilang cukup aman. Sebab, dalam kontestasi Pilkada Kota Solok 2020, persaingan BA 1 P dan BA 2 P, telah mengerucut dan meninggalkan beberapa nama saja. Yakni Irman Yefri Adang, petahana Wakil Walikota Solok Reinier Dt Intan Batuah, dan Ketua DPC Partai Gerindra Kota Solok Ismael Koto. Tapi, tidak menutup juga kemungkinan, ketiga nama tersebut bakal berkolaborasi, atau berpasangan di Pilkada 2020.

Beberapa waktu belakangan, nama Irman Yefri Adang memang santer dikabarkan bakal maju di Pilkada Kota Solok 2020. Fotonya acap kali menghiasi dinding media sosial terutama Facebook dan Instagram. Adang dielu-elukan sebagai sosok muda nan siap memimpin kota Solok lima tahun mendatang. Dari komentar di dunia maya hingga di kedai-kedai kopi, Adang disebut-sebut bakal bersanding dengan petahana Wawako Solok Reinier, peraih suara terbanyak Pileg 2019 Ramadhani Kirana Putra, hingga Ketua DPC Gerindra Kota Solok Ismael Koto. Jika hal ini terealisasi, peluang Adang untuk BA 1 P atau BA 2 P bakal terbuka lebar.

Meski begitu, sejarah dan dinamika politik Kota Solok selalu berkata lain. Senantiasa diwarnai dengan torehan yang terkadang tak masuk akal. Sejak Pilkada langsung pada 2015, Walikota Solok selalu berganti. Mulai dari Syamsu Rahim, Irzal Ilyas, hingga kini Zul Elfian.

Siapa Irman Yefri Adang?

Nama Irman Yefri Adang menjadi nama yang familiar di Kota Solok. Lebih dikenal dengan panggilan Adang, kata terakhir yang mengiringi Irman dan Yefri. Dalam panggilan di Kota Solok dan daerah lain di Sumbar, Adang juga berarti "Kakak nan Gadang" atau kakak yang paling tua. Meski masih muda, pria kelahiran 2 Maret 1971 itu, dikenal sebagai tempat bertanya dan teman diskusi yang hangat dan penuh solusi. Inilah yang membuat pria yang lahir dan besar dari keluarga pedagang di Pasaraya Solok ini, "disepakati" dengan panggilan Adang.

Di dunia politik dan kemasyarakatan di Kota Solok, suami dari Nila Damairia, A.Md, tersebut dikenal sebagai sosok yang sangat supel dengan karakter yang kuat. Sejak jadi pedagang di Pasaraya Solok, kemudian bergabung dengan Partai Amanat Nasional, hingga dua periode terpilih menjadi Anggota DPRD Kota Solok, belum sekalipun Adang terlibat konflik, perang komentar, bermanuver politik dengan siapapun. Baik di internal partai, sesama anggota DPRD, dengan mitra eksekutif Pemko Solok, ataupun dengan masyarakat.

"Itu karakter dan sifat saya sejak lahir. Saya ingin berteman dengan siapa saja. Bagi saya, kejujuran adalah hal paling utama. Yakni jujur kepada diri sendiri. Setiap manusia adalah pribadi yang unik. Memiliki kelebihan dan kekurangan, serta alasan melakukan sesuatu. Tapi, yakinlah, nasib dan apapun yang kita peroleh, sudah digariskan oleh Allah, kita tinggal menjalaninya. Karena itu, jujurlah pada diri sendiri dan orang lain. Jangan bertindak hal yang tak sesuai dengan karakter dan kepribadian," ujarnya.

Irman Yefri Adang memulai pengabdiannya di Kota Solok saat dipilih menjadi Ketua Pemuda Kelurahan Pasar Pandan Air Mati (PPA), Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok, periode 1998-2002 dan 2002-2006. Menjadi Ketua Pemuda di etalase dan pusat perekonomian Kota Solok tentu bukan sesuatu yang mudah. Pasaraya Solok, yang menjadi urat nadi ekonomi bagi warga Kota Solok, Kabupaten Solok dan daerah lainnya di Sumbar, tentu berhias dengan konflik, ketegangan, kriminalitas, bahkan kepentingan politis. Namun, stabilitas itu bisa dijaga, terbukti, Adang terpilih sebanyak dua periode.

Pertemanan Adang semakin meluas, karena saat menjadi Ketua Pemuda PPA, dirinya juga diajak bergabung dengan berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Seperti Asosiasi Pedagang Pasar, Pemuda Pancasila, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan organisasi lainnya. Semakin banyak teman, nama Adang semakin dikenal.

Tahun 2006, Adang mengambil keputusan yang sangat monumental dalam hidupnya. Wendra Amir, yang saat itu menjabat Sekretaris DPD PAN Kota Solok, mengajaknya bergabung ke partai berlambang matahari. Berbekal pendidikan ilmu hukum (SH) dari Universitas Andalas, Adang didaulat menjadi Ketua Divisi Hukum dan Hubungan Masyarakat DPD PAN Kota Solok yang saat itu dipimpin oleh Ketua DPRD Kota Solok, Burhanis Syarif.

Tahun 2009, Adang maju sebagai Caleg DPRD Kota Solok dari Daerah Pemilihan Tanjung Harapan. Meraup 436 suara, Adang menjadi sensasi, dirinya terpilih bersama dua caleg PAN lain dari Dapil Lubuk Sikarah, Jon Hendra dan Afrijon Dt Ganing Sati. Pileg 2014 seakan jadi serba mudah bagi Adang. Perolehan suaranya melejit lebih dari dua kali lipat. Meraih 964 suara, Adang bersama Jon Hendra dan Angry Nursya mempertahankan status PAN sebagai partai pemenang kedua di Kota Solok.

Tahun 2015, Pilkada di Kota Solok membuat struktur di DPRD Kota Solok berubah. Ketua DPD PAN Kota Solok saat itu, Jon Hendra, yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Solok, maju di kontestasi Pilkada Kota Solok, menjadi pasangan Cawako Ismael Koto. Keputusan Jon Hendra maju di Pilkada, membuatnya harus mundur dari DPRD Kota Solok. Dalam prosesnya, Adang kemudian diangkat menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Solok.

Tahun 2018, saat proses Pemilu 2019 dimulai, Adang dihadapkan pada pilihan. Semula, dirinya berniat maju menjadi Caleg DPRD Sumbar dari Dapil Solok Raya (Kota Solok, Kabupaten Solok, Solok Selatan). Namun, di Dapil itu, Ketua DPD PAN Kota Solok, Jon Hendra, juga maju. Menghargai Jon Hendra, Adang akhirrnya mengurungkan niat, dan dihadapkan dua pilihan, yakni kembali maju di Pileg DPRD Kota Solok, atau ke Pileg DPRD Sumbar, tapi di Dapil lain. Maju kembali ke DPRD Kota Solok tidak menjadi pilihan Adang, dengan alasan regenerasi dan memberi peluang ke kader lain. Akhirnya, Adang memutuskan maju di Dapil VI Sumbar (Tanah Datar, Padang Panjang, Sawahlunto, Sijunjung, Dharmasraya). Namun, melalui pertimbangan matang bersama keluarga dan teman-temannya, Adang memutuskan tidak maju di kontestasi Pileg 17 April 2019.

"Pilihan yang sebenarnya mudah. Tapi saya tidak mau mengorbankan hubungan baik yang telah saya jaga bertahun-tahun. Saya memutuskan tidak maju di Pileg 2019. Saya percaya, ini merupakan pilihan terbaik dari Allah kepada saya. Kita tidak pernah tahu, seperti apa masa depan kita. Pasti ada hikmah dan rencana Allah yang lebih baik kepada kita," ujarnya.

Ayah dari Bima Maghrifa Yefri (kuliah sambil kerja di Jakarta), Tasya Salsabila Wulandari (Tata Boga UNP), dan Habil Fauzan Hazizi (kelas 6 SD) menegaskan dirinya bersama keluarga senantiasa menjadikan setiap perjalanan hidup sebagai hikmah dan pembelajaran. Adang bersama istrinya, Nila Damairia, A.Md, mengaku selalu menanamkan nilai-nilai demokrasi dan saling menghargai dalam keluarga.

"Dalam keluarga misalnya, setiap pilihan anak, harus dihargai dan didukung. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita, karena yang menjalani adalah mereka. Kita hanya bisa memberikan masukan dan pertimbangan, keputusan tetap pada pribadi masing-masing," ujarnya.

Maju di Pilkada Kota Solok 2020

Usai pengumuman hasil Pileg 17 April 2019, nama Adang menjadi sangat "seksi" dibahas dan diperbincangkan. Yakni, dari partai apa dirinya bakal maju. Sebab, Ketua DPD PAN Kota Solok, Jon Hendra, tidak terpilih di Pileg DPRD Sumbar. Jon Hendra disebut-sebut bakal kembali maju di Pilkada Kota Solok 2020. Lalu, bagaimana dengan Adang?

"Saya sebagai kader PAN, tentu saya mengembalikan keputusan pada partai. Kalau diamanatkan partai, tentu akan maju melalui jalur partai tapi kalau tidak memungkinkan tentu pilihan terakhir melalui jalur independen. Di samping utu, saya juga sudah melakukan komunikasi politik dengan sejumlah partai. Sejauh ini, responsnya positif. Yakni semakin memantapkan niat saya untuk maju di Pilkada Kota Solok 2020," ujarnya.

Sebagai politisi yang sudah sangat berpengalaman di lembaga dewan dan sejumlah organisasi, Adang diyakini tidak akan gegabah menentukan sikap dan pilihan yang akan diambil. Termasuk dalam mencari pasangan. Namun ditegaskannya, sepanjang punya visi, komitmen dan konsep yang sama dalam membangun daerah, dirinya mengaku siap membangun komunikasi. Lahir dan besar dari keluarga pedagang dan besar di lingkungan Pasaraya Solok, Adang tentu sudah punya konsep bagaimana ekonomi masyarakat Kota Solok yang selama ini dikenal sebagai daerah Segita Emas Sumbar itu, mampu bangkit.

"Konsep umumnya tentu bagaimana kita mampu memberdayakan segala potensi yang dimiliki daerah. Kota Solok sebagai kota perdagangan, jasa dan pendidikan. Bagaimana ekonomi bergerak dan orang tidak hanya singgah namun betul-betul datang membawa investasi dan income bagi masyarakat dan daerah," tuturnya.

Terkait pasangan nantinya, Adang kembali menegaskan dirinya hanya akan maju jika ada perpaduan chemistry dengan pasangannya. Baik menjadi nomor satu atau nomor dua. Menurut Adang, dirinya berprinsip, lebih baik tidak ikut, jika setelah terpilih justru menambah beban fikiran masyarakat. Menurutnya, masyarakat sudah letih dengan janji. Apalagi harus ditambah lagi isu pasangan kepala daerah tidak harmonis, atau pejabat daerah tidak sinkron.

"Sesuatu harus dimulai dengan niat baik. Apapun hasil, itu adalah yang terbaik dari Allah. Setiap kita punya plus minus. Masyarakat akan melihat dan selalu mencatat. Kejujuran dan kebenaran, walau sepahit apapun, akan menunjukkan jalannya sendiri," ujarnya. (rijal islamy)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 PATRONNEWS | All Right Reserved